Teks Foto: Indah Simbolon bersama siswa/i di SDN 060887 Medan Sunggal.
Indotodaynews.com - Medan
Selama melaksanakan program asistensi mengajar di UPT SD Negeri 060887 Medan Sunggal, saya memperoleh banyak pengalaman berharga yang tidak hanya berkaitan dengan proses pembelajaran, tetapi juga dengan kehidupan peserta didik di sekolah. Saya melihat bahwa setiap anak memiliki karakter, kemampuan, dan latar belakang yang berbeda. Ada anak yang aktif dan percaya diri, tetapi ada pula yang pendiam, malu mengemukakan pendapat, mudah menangis, bahkan kesulitan berinteraksi dengan teman-temannya. Pengalaman tersebut membuat saya menyadari bahwa anak sekolah dasar tidak hanya membutuhkan guru yang mengajar, tetapi juga sosok yang mampu mendengarkan, memahami, dan mendampingi mereka ketika menghadapi berbagai persoalan.
Selama berada di sekolah, saya melihat para guru berusaha memberikan perhatian kepada seluruh peserta didik. Namun, di sisi lain guru kelas juga memiliki tanggung jawab yang besar dalam mengajar, menyusun administrasi, menilai hasil belajar, dan mengelola kelas. Akibatnya, tidak semua permasalahan peserta didik dapat ditangani secara mendalam. Dari pengalaman tersebut, saya semakin memahami bahwa keberadaan Guru Bimbingan dan Konseling (BK) di sekolah dasar merupakan kebutuhan yang penting untuk mendukung tumbuh kembang anak secara menyeluruh.
Sayangnya, hingga saat ini masih banyak masyarakat yang beranggapan bahwa Guru BK hanya bertugas menangani peserta didik yang melakukan pelanggaran atau memiliki masalah perilaku. Padahal, fungsi Guru BK jauh lebih luas. Guru BK berperan membantu seluruh peserta didik mengenali potensi diri, membangun kepercayaan diri, mengembangkan keterampilan sosial, serta mendampingi mereka dalam menghadapi berbagai tantangan, baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah.
Anak usia sekolah dasar sedang berada pada masa pembentukan karakter dan perkembangan emosional. Pada usia ini mereka mulai belajar bekerja sama, menghargai perbedaan, mengendalikan emosi, dan menyelesaikan konflik. Tidak sedikit anak yang mengalami kesulitan belajar, menjadi korban perundungan, kehilangan rasa percaya diri, atau menghadapi masalah keluarga yang berdampak pada semangat belajarnya. Kondisi tersebut sering kali tidak terlihat dari nilai akademik saja. Oleh karena itu, dibutuhkan sosok yang mampu memahami kondisi psikologis anak secara lebih mendalam.
Menurut saya, Guru BK seharusnya menjadi tempat teraman bagi setiap anak di sekolah. Tempat yang aman bukan berarti selalu memberikan solusi secara instan, melainkan tempat di mana anak merasa diterima, didengarkan, dihargai, dan dibimbing tanpa rasa takut. Ketika anak memiliki kepercayaan kepada Guru BK, mereka akan lebih berani menyampaikan perasaan, kesulitan, maupun masalah yang sedang dihadapi. Dari sinilah berbagai persoalan dapat dicegah sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih besar.
Untuk mewujudkan hal tersebut, Guru BK perlu membangun komunikasi yang hangat dan terbuka dengan peserta didik. Anak-anak harus merasa bahwa ruang BK bukan ruang yang menakutkan, melainkan ruang yang penuh kepedulian dan solusi. Selain itu, Guru BK juga perlu bekerja sama dengan guru kelas, kepala sekolah, serta orang tua agar perkembangan setiap peserta didik dapat dipantau secara berkelanjutan.
Sekolah juga memiliki tanggung jawab untuk memberikan dukungan terhadap pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling. Program-program seperti edukasi tentang perundungan, penguatan karakter, pendampingan emosional, dan konseling kelompok perlu dilaksanakan secara rutin. Dengan demikian, layanan BK tidak hanya hadir ketika terjadi masalah, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pencegahan dan pembinaan karakter peserta didik.
Di sisi lain, pemerintah diharapkan dapat memperkuat keberadaan layanan BK di sekolah dasar melalui penyediaan tenaga profesional, pelatihan yang berkelanjutan, serta kebijakan yang mendukung kesehatan mental anak. Tantangan yang dihadapi peserta didik saat ini semakin kompleks, sehingga layanan BK tidak lagi dapat dipandang sebagai pelengkap, melainkan sebagai kebutuhan dalam sistem pendidikan.
Melalui pengalaman asistensi mengajar di UPT SD Negeri 060887 Medan Sunggal, saya semakin yakin bahwa sekolah yang baik bukan hanya sekolah yang mampu menghasilkan peserta didik berprestasi, tetapi juga sekolah yang mampu memberikan rasa aman kepada setiap anak. Guru BK memiliki peran besar dalam mewujudkan lingkungan belajar yang nyaman, inklusif, dan ramah anak.
Pada akhirnya, mewujudkan Guru BK sebagai tempat teraman bagi anak sekolah dasar bukan hanya menjadi tanggung jawab Guru BK semata, tetapi juga tanggung jawab seluruh warga sekolah. Ketika guru, orang tua, dan sekolah saling bekerja sama, setiap anak akan memiliki kesempatan untuk tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, berkarakter, percaya diri, dan sehat secara emosional. Itulah pendidikan yang sesungguhnya, yaitu pendidikan yang tidak hanya mengembangkan kemampuan akademik, tetapi juga memanusiakan setiap anak. (**)
Penulis: Indah Simbolon, Mahasiswi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Katolik Santo Thomas Medan.
Selama melaksanakan program asistensi mengajar di UPT SD Negeri 060887 Medan Sunggal, saya memperoleh banyak pengalaman berharga yang tidak hanya berkaitan dengan proses pembelajaran, tetapi juga dengan kehidupan peserta didik di sekolah. Saya melihat bahwa setiap anak memiliki karakter, kemampuan, dan latar belakang yang berbeda. Ada anak yang aktif dan percaya diri, tetapi ada pula yang pendiam, malu mengemukakan pendapat, mudah menangis, bahkan kesulitan berinteraksi dengan teman-temannya. Pengalaman tersebut membuat saya menyadari bahwa anak sekolah dasar tidak hanya membutuhkan guru yang mengajar, tetapi juga sosok yang mampu mendengarkan, memahami, dan mendampingi mereka ketika menghadapi berbagai persoalan.
Selama berada di sekolah, saya melihat para guru berusaha memberikan perhatian kepada seluruh peserta didik. Namun, di sisi lain guru kelas juga memiliki tanggung jawab yang besar dalam mengajar, menyusun administrasi, menilai hasil belajar, dan mengelola kelas. Akibatnya, tidak semua permasalahan peserta didik dapat ditangani secara mendalam. Dari pengalaman tersebut, saya semakin memahami bahwa keberadaan Guru Bimbingan dan Konseling (BK) di sekolah dasar merupakan kebutuhan yang penting untuk mendukung tumbuh kembang anak secara menyeluruh.
Sayangnya, hingga saat ini masih banyak masyarakat yang beranggapan bahwa Guru BK hanya bertugas menangani peserta didik yang melakukan pelanggaran atau memiliki masalah perilaku. Padahal, fungsi Guru BK jauh lebih luas. Guru BK berperan membantu seluruh peserta didik mengenali potensi diri, membangun kepercayaan diri, mengembangkan keterampilan sosial, serta mendampingi mereka dalam menghadapi berbagai tantangan, baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah.
Anak usia sekolah dasar sedang berada pada masa pembentukan karakter dan perkembangan emosional. Pada usia ini mereka mulai belajar bekerja sama, menghargai perbedaan, mengendalikan emosi, dan menyelesaikan konflik. Tidak sedikit anak yang mengalami kesulitan belajar, menjadi korban perundungan, kehilangan rasa percaya diri, atau menghadapi masalah keluarga yang berdampak pada semangat belajarnya. Kondisi tersebut sering kali tidak terlihat dari nilai akademik saja. Oleh karena itu, dibutuhkan sosok yang mampu memahami kondisi psikologis anak secara lebih mendalam.
Menurut saya, Guru BK seharusnya menjadi tempat teraman bagi setiap anak di sekolah. Tempat yang aman bukan berarti selalu memberikan solusi secara instan, melainkan tempat di mana anak merasa diterima, didengarkan, dihargai, dan dibimbing tanpa rasa takut. Ketika anak memiliki kepercayaan kepada Guru BK, mereka akan lebih berani menyampaikan perasaan, kesulitan, maupun masalah yang sedang dihadapi. Dari sinilah berbagai persoalan dapat dicegah sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih besar.
Untuk mewujudkan hal tersebut, Guru BK perlu membangun komunikasi yang hangat dan terbuka dengan peserta didik. Anak-anak harus merasa bahwa ruang BK bukan ruang yang menakutkan, melainkan ruang yang penuh kepedulian dan solusi. Selain itu, Guru BK juga perlu bekerja sama dengan guru kelas, kepala sekolah, serta orang tua agar perkembangan setiap peserta didik dapat dipantau secara berkelanjutan.
Sekolah juga memiliki tanggung jawab untuk memberikan dukungan terhadap pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling. Program-program seperti edukasi tentang perundungan, penguatan karakter, pendampingan emosional, dan konseling kelompok perlu dilaksanakan secara rutin. Dengan demikian, layanan BK tidak hanya hadir ketika terjadi masalah, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pencegahan dan pembinaan karakter peserta didik.
Di sisi lain, pemerintah diharapkan dapat memperkuat keberadaan layanan BK di sekolah dasar melalui penyediaan tenaga profesional, pelatihan yang berkelanjutan, serta kebijakan yang mendukung kesehatan mental anak. Tantangan yang dihadapi peserta didik saat ini semakin kompleks, sehingga layanan BK tidak lagi dapat dipandang sebagai pelengkap, melainkan sebagai kebutuhan dalam sistem pendidikan.
Melalui pengalaman asistensi mengajar di UPT SD Negeri 060887 Medan Sunggal, saya semakin yakin bahwa sekolah yang baik bukan hanya sekolah yang mampu menghasilkan peserta didik berprestasi, tetapi juga sekolah yang mampu memberikan rasa aman kepada setiap anak. Guru BK memiliki peran besar dalam mewujudkan lingkungan belajar yang nyaman, inklusif, dan ramah anak.
Pada akhirnya, mewujudkan Guru BK sebagai tempat teraman bagi anak sekolah dasar bukan hanya menjadi tanggung jawab Guru BK semata, tetapi juga tanggung jawab seluruh warga sekolah. Ketika guru, orang tua, dan sekolah saling bekerja sama, setiap anak akan memiliki kesempatan untuk tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, berkarakter, percaya diri, dan sehat secara emosional. Itulah pendidikan yang sesungguhnya, yaitu pendidikan yang tidak hanya mengembangkan kemampuan akademik, tetapi juga memanusiakan setiap anak. (**)
Penulis: Indah Simbolon, Mahasiswi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Katolik Santo Thomas Medan.