Membangun Generasi Berkarakter Melalui Bimbingan Konseling di SD Negeri 060916 Medan Sunggal

Teks Foto: Liza Natalia Sitopu di SDN 060916 Medan Sunggal.

Indotodaynews.com - Medan

Menurut saya, pendidikan di sekolah dasar tidak boleh hanya berfokus pada pencapaian nilai akademik semata. Sekolah juga memiliki tanggung jawab yang besar dalam membentuk karakter peserta didik agar tumbuh menjadi pribadi yang disiplin, jujur, bertanggung jawab, dan memiliki kepedulian terhadap orang lain. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut adalah melalui layanan bimbingan dan konseling (BK). Saya berpendapat bahwa bimbingan dan konseling merupakan bagian penting dalam proses pendidikan karena mampu membantu siswa menghadapi berbagai permasalahan yang mereka alami sekaligus mengembangkan potensi yang dimiliki sejak dini.

Berdasarkan pengalaman saya selama melaksanakan asistensi mengajar di SD Negeri 060916 Medan Sunggal, saya melihat masih terdapat beberapa perilaku siswa yang memerlukan perhatian. Misalnya, masih ada siswa yang kurang disiplin, sering berbicara saat guru menjelaskan, mudah berselisih dengan teman, bahkan ada yang kurang percaya diri ketika diminta tampil atau menyampaikan pendapat di depan kelas. Menurut saya, kondisi tersebut merupakan hal yang wajar karena anak usia sekolah dasar masih berada dalam tahap perkembangan karakter dan pengendalian emosi.

Saya juga melihat bahwa guru kelas telah berusaha memberikan arahan, nasihat, dan pembinaan kepada siswa setiap kali muncul permasalahan. Namun, menurut saya, pembinaan tersebut akan lebih optimal apabila didukung dengan pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling yang dilakukan secara terencana, berkelanjutan, dan melibatkan kerja sama antara sekolah dengan orang tua.

Saya berpendapat bahwa perilaku siswa tidak muncul begitu saja, tetapi dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti lingkungan keluarga, pergaulan dengan teman sebaya, perkembangan teknologi, serta kebiasaan yang dibentuk sejak kecil. Oleh karena itu, memberikan hukuman saja tidak akan menyelesaikan masalah apabila penyebab utamanya tidak dipahami.

Menurut saya, bimbingan dan konseling harus dipandang sebagai sarana untuk mendampingi siswa, bukan sekadar menangani anak yang bermasalah. Layanan BK seharusnya menjadi tempat bagi siswa untuk belajar mengenali dirinya, mengendalikan emosi, menyelesaikan konflik dengan baik, serta membangun rasa percaya diri. Saya meyakini bahwa ketika siswa merasa didengar, dipahami, dan dibimbing dengan baik, mereka akan lebih mudah menerima arahan dan memperbaiki perilakunya.

Menurut saya, penguatan layanan bimbingan dan konseling di SD Negeri 060916 Medan Sunggal perlu menjadi perhatian seluruh warga sekolah. Guru dapat memberikan bimbingan melalui pembiasaan karakter positif setiap hari, kegiatan diskusi, konseling sederhana, maupun pemberian motivasi kepada siswa. Selain itu, kerja sama antara sekolah dan orang tua juga harus terus ditingkatkan agar perkembangan siswa dapat dipantau secara bersama-sama.

Saya berharap sekolah terus mengembangkan program-program yang mendukung pembentukan karakter, seperti pembiasaan budaya 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun), kegiatan gotong royong, pendidikan karakter, serta kegiatan yang melatih siswa untuk menghargai perbedaan dan menyelesaikan masalah tanpa kekerasan. Menurut saya, pembentukan karakter tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat, tetapi membutuhkan proses yang dilakukan secara konsisten oleh semua pihak.

Pada akhirnya, saya berpendapat bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari tingginya nilai akademik siswa, tetapi juga dari karakter yang mereka miliki. Bimbingan dan konseling merupakan salah satu sarana penting untuk membentuk peserta didik menjadi pribadi yang disiplin, bertanggung jawab, percaya diri, dan mampu hidup berdampingan dengan orang lain. Oleh karena itu, menurut saya, layanan bimbingan dan konseling di SD Negeri 060916 Medan Sunggal harus terus diperkuat agar mampu menciptakan lingkungan belajar yang nyaman sekaligus melahirkan generasi yang cerdas, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan di masa depan. (**)

Penulis: Liza Natalia Sitopu, Mahasiswi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Katolik Santo Thomas Medan.