1.083 Mahasiswa Baru Efarina Masuk Kampus, BEM Lempar Tantangan: Jangan Jadi Mahasiswa “Pajangan Almamater

Teks Foto: Suasana PKKMB Tahun Akademik 2026/2027.

Indotodaynews.com - Pematangsiantar 

Kampus bukan museum, mahasiswa bukan pajangan, dan almamater bukan sekadar seragam untuk berfoto. Pesan itulah yang dilempar BEM Universitas Efarina di tengah penutupan rangkaian PKKMB Tahun Akademik 2026/2027.

Sebanyak 1.083 mahasiswa baru mengikuti PKKMB yang berlangsung 10–12 September 2026 di Aula Universitas Efarina, Pematangsiantar. Namun, di balik seremoni penyambutan itu, BEM membawa satu pertanyaan yang jauh lebih serius: setelah resmi menjadi mahasiswa, apakah mereka hanya akan mengejar nilai atau berani ikut mengurus persoalan masyarakat?

BEM Universitas Efarina memanfaatkan momentum tersebut untuk memperkenalkan organisasi kemahasiswaan sekaligus menanamkan pemahaman tentang fungsi mahasiswa sebagai social control dan agent of change.

Presiden Mahasiswa BEM Universitas Efarina, Depandes Nababan, menegaskan bahwa mahasiswa tidak boleh terkurung dalam kenyamanan ruang kelas.

“Menjadi mahasiswa adalah sebuah amanah yang berat. Mahasiswa tidak hanya dituntut untuk belajar di dalam ruang kelas, tetapi juga harus mampu kembali turun ke tengah masyarakat, melihat persoalan yang terjadi, serta mengambil bagian dalam mengawal kebijakan sosial,” ujar Depandes.

Kalimat tersebut terdengar sederhana, tetapi menyimpan sindiran yang cukup dalam. Sebab, kampus bisa melahirkan mahasiswa dengan nilai akademik tinggi, tetapi nilai akademik tanpa kepekaan sosial berisiko melahirkan kecerdasan yang berjalan sendirian.

Di sinilah BEM menempatkan fungsi social control bukan sebagai hiasan dalam materi organisasi. Mahasiswa didorong untuk berani bertanya, berdiskusi, mengkritisi kebijakan dan membaca persoalan yang terjadi di tengah masyarakat.

Sementara menjadi agent of change berarti tidak berhenti pada kata-kata.

Sebab perubahan tidak pernah lahir hanya dari seminar, spanduk, sertifikat atau tepuk tangan. Perubahan membutuhkan keberanian untuk turun tangan.

Depandes juga mengingatkan agar mahasiswa tidak terjebak dalam rutinitas akademik semata.

“Jangan sampai setelah menjadi mahasiswa, kita hanya sibuk dengan urusan akademik dan melupakan masyarakat. Ilmu yang kita dapatkan di kampus harus memiliki manfaat dan dampak ketika kita kembali ke tengah-tengah masyarakat,” lanjutnya.

BEM Universitas Efarina turut memperkenalkan berbagai agenda kepengurusan periode 2025–2026 sebagai gambaran ruang aktualisasi mahasiswa di luar kegiatan akademik.

Pesannya jelas: organisasi bukan sekadar tempat mencari jabatan, membuat kegiatan atau mengumpulkan dokumentasi. Organisasi semestinya menjadi laboratorium keberanian, tempat mahasiswa belajar mengolah gagasan, menghadapi perbedaan, membaca persoalan dan mengambil keputusan.

PKKMB pun akhirnya bukan hanya soal mengenalkan gedung, aturan dan lingkungan kampus.

Lebih jauh, ia menjadi ujian pertama tentang seperti apa wajah mahasiswa yang akan lahir dari kampus tersebut.

Apakah mereka akan menjadi mahasiswa yang hanya sibuk mengejar indeks prestasi?

Atau menjadi generasi yang ketika melihat ketidakadilan tidak memilih menundukkan kepala?

Sebab, gelar mahasiswa bukan mahkota. Ia adalah mandat.

Dan mandat itu baru benar-benar berarti ketika ilmu yang diperoleh di bangku kuliah mampu keluar dari pagar kampus, menyentuh masyarakat, serta memberi arti bagi perubahan.

Almamater boleh melekat di badan. Tetapi keberpihakan kepada masyarakat harus melekat di pikiran dan tindakan. (*)