Teks Foto: Hunian Sementara.
Indotodaynews.id - Aceh
Lembaga kemanusiaan Rumah Zakat bersama masyarakat memanfaatkan gelondongan kayu sisa banjir bandang untuk membangun hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak bencana banjir di wilayah Sumatera.
Kayu-kayu tersebut merupakan sisa material banjir bandang yang dikumpulkan oleh tim gabungan Kementerian Kehutanan (Kemenhut) dalam proses pembersihan kawasan terdampak. Hingga hari ke-15 pelaksanaan, pembersihan kayu difokuskan di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, yang masih mengalami hambatan akses akibat tumpukan material kayu.
Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser, Subhan, mengatakan pembersihan difokuskan di Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan.
“Pembersihan difokuskan di Desa Geudumbak yang masih mengalami hambatan akses akibat tumpukan kayu sisa banjir,” ujar Subhan dalam keterangannya, Senin (5/1/2026).
Kayu yang masih layak dimanfaatkan telah dikumpulkan di lokasi dan diukur oleh Balai Pengelolaan Hutan Lestari (BPHL). Total kayu yang berhasil dihimpun mencapai 103 batang atau setara 93,11 meter kubik.
Dalam proses pembersihan, petugas mengerahkan 23 unit alat berat, terdiri dari 21 unit milik Kemenhut (10 ekskavator capit, sembilan ekskavator bucket, dan dua dozer), dua unit milik TNI, serta dua unit ekskavator dari Kementerian Pekerjaan Umum. Satu unit alat berat tambahan juga digunakan untuk membersihkan parit dan halaman SMP Negeri 3 Langkahan, sementara 50 personel dikerahkan membersihkan area SD Negeri 4 Langkahan.
Subhan menyebut, pemanfaatan kayu sisa bencana oleh Rumah Zakat dan masyarakat pada hari ini mencapai sekitar 3 meter kubik, menggunakan tujuh unit gergaji mesin. Sementara secara akumulatif sejak 29 Desember 2025 hingga 3 Januari 2026, kayu yang dimanfaatkan diperkirakan mencapai 18,5 meter kubik.
“Hingga saat ini, tercatat tiga hunian sementara masih dalam proses pembangunan,” ungkapnya.
Selain di Aceh Utara, Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) juga terus melakukan pembersihan rumah warga terdampak banjir di Aceh Tamiang. Sementara itu, Kemenhut tengah menyiapkan hunian tetap di lahan milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) di Sumatera Utara.
Petugas juga menerima laporan temuan kayu dalam jumlah besar di Sungai Batang Toru, cabang Aek Rambe, Sumatera Utara. Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Novita, mengatakan temuan tersebut masih dalam tahap pendalaman.
“Saat ini temuan masih ditangani dan didalami sesuai ketentuan yang berlaku,” ujarnya.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno menyampaikan bahwa sebagian daerah terdampak banjir dan longsor telah memasuki fase transisi rehabilitasi dan rekonstruksi.
Di Aceh, tujuh kabupaten/kota telah masuk fase transisi, sementara 11 daerah masih memperpanjang masa tanggap darurat. Di Sumatera Utara, delapan kabupaten/kota telah beralih ke fase rehabilitasi dan rekonstruksi, sedangkan delapan lainnya masih tanggap darurat. Di Sumatera Barat, 10 kabupaten/kota masuk fase transisi dan tiga masih dalam status tanggap darurat.
Pratikno menegaskan perpanjangan status tanggap darurat dilakukan agar daerah siap memasuki tahap rehabilitasi dan rekonstruksi secara optimal.
“Terkait listrik, air bersih, toilet darurat, hingga telekomunikasi, bantuan terus ditambah dan diperluas. Untuk daerah yang belum pulih jaringannya, kami menambah 280 unit Starlink,” kata Pratikno. (*)
Lembaga kemanusiaan Rumah Zakat bersama masyarakat memanfaatkan gelondongan kayu sisa banjir bandang untuk membangun hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak bencana banjir di wilayah Sumatera.
Kayu-kayu tersebut merupakan sisa material banjir bandang yang dikumpulkan oleh tim gabungan Kementerian Kehutanan (Kemenhut) dalam proses pembersihan kawasan terdampak. Hingga hari ke-15 pelaksanaan, pembersihan kayu difokuskan di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, yang masih mengalami hambatan akses akibat tumpukan material kayu.
Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser, Subhan, mengatakan pembersihan difokuskan di Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan.
“Pembersihan difokuskan di Desa Geudumbak yang masih mengalami hambatan akses akibat tumpukan kayu sisa banjir,” ujar Subhan dalam keterangannya, Senin (5/1/2026).
Kayu yang masih layak dimanfaatkan telah dikumpulkan di lokasi dan diukur oleh Balai Pengelolaan Hutan Lestari (BPHL). Total kayu yang berhasil dihimpun mencapai 103 batang atau setara 93,11 meter kubik.
Dalam proses pembersihan, petugas mengerahkan 23 unit alat berat, terdiri dari 21 unit milik Kemenhut (10 ekskavator capit, sembilan ekskavator bucket, dan dua dozer), dua unit milik TNI, serta dua unit ekskavator dari Kementerian Pekerjaan Umum. Satu unit alat berat tambahan juga digunakan untuk membersihkan parit dan halaman SMP Negeri 3 Langkahan, sementara 50 personel dikerahkan membersihkan area SD Negeri 4 Langkahan.
Subhan menyebut, pemanfaatan kayu sisa bencana oleh Rumah Zakat dan masyarakat pada hari ini mencapai sekitar 3 meter kubik, menggunakan tujuh unit gergaji mesin. Sementara secara akumulatif sejak 29 Desember 2025 hingga 3 Januari 2026, kayu yang dimanfaatkan diperkirakan mencapai 18,5 meter kubik.
“Hingga saat ini, tercatat tiga hunian sementara masih dalam proses pembangunan,” ungkapnya.
Selain di Aceh Utara, Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) juga terus melakukan pembersihan rumah warga terdampak banjir di Aceh Tamiang. Sementara itu, Kemenhut tengah menyiapkan hunian tetap di lahan milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) di Sumatera Utara.
Petugas juga menerima laporan temuan kayu dalam jumlah besar di Sungai Batang Toru, cabang Aek Rambe, Sumatera Utara. Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Novita, mengatakan temuan tersebut masih dalam tahap pendalaman.
“Saat ini temuan masih ditangani dan didalami sesuai ketentuan yang berlaku,” ujarnya.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno menyampaikan bahwa sebagian daerah terdampak banjir dan longsor telah memasuki fase transisi rehabilitasi dan rekonstruksi.
Di Aceh, tujuh kabupaten/kota telah masuk fase transisi, sementara 11 daerah masih memperpanjang masa tanggap darurat. Di Sumatera Utara, delapan kabupaten/kota telah beralih ke fase rehabilitasi dan rekonstruksi, sedangkan delapan lainnya masih tanggap darurat. Di Sumatera Barat, 10 kabupaten/kota masuk fase transisi dan tiga masih dalam status tanggap darurat.
Pratikno menegaskan perpanjangan status tanggap darurat dilakukan agar daerah siap memasuki tahap rehabilitasi dan rekonstruksi secara optimal.
“Terkait listrik, air bersih, toilet darurat, hingga telekomunikasi, bantuan terus ditambah dan diperluas. Untuk daerah yang belum pulih jaringannya, kami menambah 280 unit Starlink,” kata Pratikno. (*)