Ketika Wali Kelas Menjalankan Peran Bimbingan dan Konseling di Sekolah Dasar

Teks Foto: Suasana Ruang Belajar di SDN 068004 Medan Tuntungan.

Indotodaynews.com - Medan

Banyak orang beranggapan bahwa layanan bimbingan dan konseling hanya dapat berjalan apabila sebuah sekolah memiliki guru BK. Pandangan tersebut tidak sepenuhnya benar. Pengalaman saya selama melaksanakan kegiatan di UPT SDN 068004 Medan Tuntungan menunjukkan bahwa meskipun sekolah belum memiliki guru BK secara khusus, kebutuhan siswa untuk mendapatkan bimbingan tetap dipenuhi melalui peran wali kelas.

Selama berada di sekolah tersebut, saya melihat bahwa wali kelas bukan hanya mengajarkan materi pelajaran. Setiap hari mereka juga menjadi tempat siswa bertanya, mengadu, dan mencari solusi ketika menghadapi berbagai kesulitan. Ada siswa yang kehilangan semangat belajar, ada yang sulit berkonsentrasi, ada pula yang berselisih dengan teman. Dalam situasi seperti itu, wali kelas tidak langsung memberikan hukuman, tetapi lebih dahulu mengajak siswa berbicara, mendengarkan penyebab masalah, kemudian memberikan arahan dengan penuh kesabaran.

Saya juga melihat bahwa pendekatan yang dilakukan wali kelas mampu menciptakan hubungan yang baik dengan siswa. Anak-anak merasa lebih nyaman untuk menceritakan perasaan dan masalah yang mereka hadapi karena sudah mengenal wali kelas sebagai sosok yang dekat dengan mereka. Hubungan yang hangat tersebut membuat proses pembimbingan menjadi lebih mudah dan membantu siswa menemukan solusi atas permasalahan yang dialaminya.

Pengalaman tersebut membuat saya menyadari bahwa hakikat bimbingan dan konseling bukan sekadar sebuah jabatan, melainkan sebuah proses mendampingi peserta didik agar berkembang secara utuh. Anak usia sekolah dasar sedang berada pada masa pembentukan karakter. Mereka belajar mengendalikan emosi, menghargai orang lain, bertanggung jawab, dan mengenali kemampuan yang dimiliki. Semua proses itu membutuhkan pendampingan dari orang dewasa yang mampu memahami dunia anak.

Selain itu, saya menyadari bahwa setiap anak memiliki karakter, kemampuan, dan latar belakang keluarga yang berbeda. Oleh karena itu, cara memberikan bimbingan kepada setiap siswa juga tidak dapat disamakan. Ada anak yang cukup diberikan nasihat, ada yang membutuhkan perhatian lebih, bahkan ada yang memerlukan kerja sama antara guru dan orang tua agar masalahnya dapat diselesaikan dengan baik. Hal tersebut menunjukkan bahwa layanan bimbingan dan konseling memerlukan kesabaran, empati, dan komunikasi yang baik.
Namun demikian, saya juga melihat bahwa beban yang dipikul wali kelas tidaklah ringan. Mereka harus merencanakan pembelajaran, mengajar, melakukan penilaian, mengelola administrasi kelas, sekaligus membimbing perkembangan sosial dan emosional peserta didik. Tanggung jawab yang begitu besar tentu menjadi tantangan tersendiri. Dalam kondisi seperti ini, kehadiran guru Bimbingan dan Konseling akan menjadi pelengkap yang sangat penting agar layanan kepada siswa dapat diberikan secara lebih optimal.

Menurut saya, sekolah dasar sudah seharusnya memberikan perhatian yang lebih besar terhadap layanan bimbingan dan konseling. Keberadaan guru BK bukan untuk mencari kesalahan siswa ataupun memberikan hukuman, melainkan menjadi mitra bagi siswa, guru, dan orang tua dalam membantu menyelesaikan berbagai persoalan yang dapat memengaruhi proses belajar maupun perkembangan karakter anak.

Sekolah juga dapat membangun budaya yang mendukung kesehatan sosial dan emosional peserta didik melalui kerja sama antara kepala sekolah, guru, orang tua, dan seluruh warga sekolah. Dengan adanya komunikasi yang baik, berbagai permasalahan yang dialami siswa dapat diketahui lebih awal sehingga dapat segera diberikan pendampingan yang tepat.
Pengalaman di UPT SDN 068004 Medan Tuntungan mengajarkan kepada saya bahwa pendidikan yang baik tidak hanya diukur dari nilai rapor atau prestasi akademik. Pendidikan juga harus mampu menghadirkan rasa aman, kepedulian, dan pendampingan bagi setiap peserta didik. Ketika seorang anak merasa didengar, dipahami, dan dibimbing dengan baik, ia akan memiliki kepercayaan diri untuk berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya.

Pengalaman tersebut juga memberikan pemahaman kepada saya bahwa menjadi seorang pendidik bukan hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter dan membantu siswa menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini menjadi bekal yang sangat berharga bagi saya sebagai calon guru sekolah dasar agar kelak mampu menjalankan tugas mendidik dengan penuh tanggung jawab dan kepedulian.

Pada akhirnya, saya percaya bahwa layanan bimbingan dan konseling merupakan investasi penting bagi masa depan pendidikan Indonesia. Baik melalui guru BK maupun melalui dedikasi wali kelas yang menjalankan peran tersebut, tujuan utamanya tetap sama, yaitu membantu setiap anak tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, berkarakter, mandiri, dan siap menghadapi tantangan kehidupan. (**)

Penulis: Dhini Filisia Br Tarigan, Mahasiswi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Katolim St. Thomas Medan.