Teks foto: Ilustrasi Beras
Indotodaynews.id - Depok
Asnawi, salah satu pedagang beras di Jalan Raya Sawangan, Depok, mulai terdampak imbas munculnya beras oplosan. Menurut dia, tak sedikit pembeli yang rewel soal dagangan yang dijualnya.
"Iya, tidak sedikit pembeli lebih rewel menanyakan beras oplosan saat membeli beras premium yang kami jual," cerita dia, Jumat (25/7/2025)
Pria berusia 50 tahun itu pun berusaha memberikan penjelasan ke pembeli terkait perbedaan beras oplosan dan beras premium. Beras premium tidak ada patahan dan harganya pun berbeda dengan beras medium.
“Kita menjual beras premium itu Rp15 ribu sampai Rp17 ribu per kilogram, itu tergantung merek," ungkap Asnawi.
Sambil membantu melayani pembeli, dia memastikan tokonya tidak menjual beras oplosan. Asnawi menjamin beras premium yang dijual memiliki kode produksi kemasan dan perusahaan.
"Contohnya ini, ada nama perusahaan jadi ada penanggung jawabnya," terang Asnawi.
Meskipun begitu, Asnawi turut menjual beras eceran yang dijual per liter. Adapun beras yang di ecer menggunakan beras medium di jual dengan harga Rp13 ribu sampai 14 ribu per liter tergantung dari merek beras.
"Kalau di sini kami jual prinsipnya kejujuran, saya nggak mau menjual beras oplosan, adanya isu ini juga penjualan beras premium sudah mulai menurun," kata Asnawi.
Tidak jauh berbeda, pedagang beras di Jalan Raya Merdeka, Mahfud mengungkapkan, bahwa pembeli beras premium mulai menurun.
"Kita turut terkena dampak juga, pembeli beras premium mulai menurun," ujar pria yang sudah berjualan selama 20 tahun itu.
Mahfud mengaku, sebelum maraknya pemberitaan beras oplosan, tokonya mampu menjual beras premium dalam sehari 30 kilogram. Namun setelah itu beras oplosan kembali mencuat, tokonya hanya mampu menjual 20 kilogram dalam sehari.
"Ya mau bagaimana lagi, kita serahkan semuanya kepada pembeli," kata Mahfud.
Dia meyakini tidak ingin menjual beras untuk mendapatkan keuntungan dengan cara merugikan pembeli.
"Saya pastikan penjualan beras di toko ini tidak dengan cara yang tidak halal," tutur Mahfud.
Dia kerap memberikan penjelasan kepada pembeli yang sedang memilih beras di tokonya. Hal itulah yang menjadi salah satu kunci pembeli tetap mempercayai beras yang dijual tokonya.
"Kami berharap, kepolisian kembali menangkap para penjual beras oplosan, selain merugikan pembeli, kami pun turut terdampak," kata Mahfud.
Sementara, Wali Kota Depok, Supian Suri mengaku telah melakukan inspeksi mendadak sejumlah pasar dan pedagang beras, menanggapi penemuan penjualan beras oplosan.
Di mana, menurut dia, Pemerintah Kota Depok belum menemukan adanya penjualan beras oplosan.
"Kami minta Disperdag untuk mengecek di beberapa tempat, tapi Alhamdulillah sampai saat ini kita belum menemukan cerita tentang beras polosan khususnya di Kota Depok ya," singkat Supian Suri. (*)
Asnawi, salah satu pedagang beras di Jalan Raya Sawangan, Depok, mulai terdampak imbas munculnya beras oplosan. Menurut dia, tak sedikit pembeli yang rewel soal dagangan yang dijualnya.
"Iya, tidak sedikit pembeli lebih rewel menanyakan beras oplosan saat membeli beras premium yang kami jual," cerita dia, Jumat (25/7/2025)
Pria berusia 50 tahun itu pun berusaha memberikan penjelasan ke pembeli terkait perbedaan beras oplosan dan beras premium. Beras premium tidak ada patahan dan harganya pun berbeda dengan beras medium.
“Kita menjual beras premium itu Rp15 ribu sampai Rp17 ribu per kilogram, itu tergantung merek," ungkap Asnawi.
Sambil membantu melayani pembeli, dia memastikan tokonya tidak menjual beras oplosan. Asnawi menjamin beras premium yang dijual memiliki kode produksi kemasan dan perusahaan.
"Contohnya ini, ada nama perusahaan jadi ada penanggung jawabnya," terang Asnawi.
Meskipun begitu, Asnawi turut menjual beras eceran yang dijual per liter. Adapun beras yang di ecer menggunakan beras medium di jual dengan harga Rp13 ribu sampai 14 ribu per liter tergantung dari merek beras.
"Kalau di sini kami jual prinsipnya kejujuran, saya nggak mau menjual beras oplosan, adanya isu ini juga penjualan beras premium sudah mulai menurun," kata Asnawi.
Tidak jauh berbeda, pedagang beras di Jalan Raya Merdeka, Mahfud mengungkapkan, bahwa pembeli beras premium mulai menurun.
"Kita turut terkena dampak juga, pembeli beras premium mulai menurun," ujar pria yang sudah berjualan selama 20 tahun itu.
Mahfud mengaku, sebelum maraknya pemberitaan beras oplosan, tokonya mampu menjual beras premium dalam sehari 30 kilogram. Namun setelah itu beras oplosan kembali mencuat, tokonya hanya mampu menjual 20 kilogram dalam sehari.
"Ya mau bagaimana lagi, kita serahkan semuanya kepada pembeli," kata Mahfud.
Dia meyakini tidak ingin menjual beras untuk mendapatkan keuntungan dengan cara merugikan pembeli.
"Saya pastikan penjualan beras di toko ini tidak dengan cara yang tidak halal," tutur Mahfud.
Dia kerap memberikan penjelasan kepada pembeli yang sedang memilih beras di tokonya. Hal itulah yang menjadi salah satu kunci pembeli tetap mempercayai beras yang dijual tokonya.
"Kami berharap, kepolisian kembali menangkap para penjual beras oplosan, selain merugikan pembeli, kami pun turut terdampak," kata Mahfud.
Sementara, Wali Kota Depok, Supian Suri mengaku telah melakukan inspeksi mendadak sejumlah pasar dan pedagang beras, menanggapi penemuan penjualan beras oplosan.
Di mana, menurut dia, Pemerintah Kota Depok belum menemukan adanya penjualan beras oplosan.
"Kami minta Disperdag untuk mengecek di beberapa tempat, tapi Alhamdulillah sampai saat ini kita belum menemukan cerita tentang beras polosan khususnya di Kota Depok ya," singkat Supian Suri. (*)