Teks Foto: Pebriyanti Tanjung.
Indotodaynews.com - Medan
“Ah namanya juga anak-anak. Nanti juga baikan sendiri.”
Kalimat seperti ini masih sering kita dengar ketika ada kasus bullying di sekolah. Padahal, tidak semua yang dianggap bercanda benar-benar lucu bagi orang yang mengalaminya. Ada anak yang memilih diam, ada yang kehilangan kepercayaan diri, bahkan ada yang tidak lagi semangat datang kesekolah karena terus menjadi sasaran ejekan atau perlakuan yang tidak menyenangkan dari teman-temannya.
Masalahnya, baru kita sadari ketika dampaknya sudah besar. Padahal, bullying biasanya dimulai dari hal-hal kecil yang dianggap sepele seperti mengejek nama orang tua, memberi julukan yang merendahkan, mengucilkan teman dari kelompok, atau sengaja mempermalukan seseorang di depan teman-temanya, sampai menyebarkan cerita yang membuatnya dipermalukan. Karena dianggap “hal biasa”, perilaku ini sering dibiarkan. Lama-kelamaan, pelaku merasa tindakannya wajar, sementara korban memilih diam karena takut di ejek lebih jauh.
Menurut saya, inilah yang menjadi persoalan, kita terlalu fokus pada pelaku dan hukuman, tetapi sering lupa bertanya, mengapa bullying bisa terus terjadi kepada siswa?
Dari sudut pandang psikologi, setiap perilaku pasti memiliki penyebab.
Ada anak yang melakukan bullying karena ingin dianggap hebat oleh teman-temannya. Ada yang terbiasa melihat kekerasan di lingkungan sekitarnya. Ada pula yang belum mampu mengendalikan emosi atau belum memahami bahwa ucapannya dapat melukai orang lain.
Sementara itu, korban bullying sering mengalami penurunan rasa percaya diri dari lingkungan, bahkan prestasi belajarnya ikut menurun.
Sayangnya, masih banyak siswa yang menganggap ruang BK sebagai temapat “mengadili” bagi anak yang bermasalah. Padahal, fungsi guru BK jauh lebih luas. Guru BK hadir untuk mendampingi, mendengarkan, membantu siswa memahami masalahnya, serta menjadi solusi bersama.
Guru BK bukan hanya bertugas ketika masalah sudah terjadi, tetapi juga memiliki peran dalam mencengahnya melalui layanan bimbingan dan pembinaan karakter.
Selama menjalani asistensi di UPT SD Negeri 068007 Medan Tuntungan, saya justru belajar bahwa mencegah bullying tidak selalu dari aturan yang keras. bisa dimulai dari kebiasaan-kebiasaan sederhana di kelas. Guru selalu mengigatkan siswa untuk selalu saling menghargai saat belajar kelompok, memggunakan kata-kata yang sopan, dan tidak mengejek teman.
Ketika terjadi perselisihan, guru tidak langsung menyalahkan salah satu pihak, tetapi mengajak mereka duduk bersama, mendengarkan cerita masing-masing, lalu membimbing mereka menyelesaikan masalah dengan baik. pendekatan seperti ini membuat siswa belajar bahwa setiap konflik bisa diselesaikan tanpa kekerasan atau saling merendahkan.
Pengalaman tersebut membuat saya percaya bahwa menciptakan sekolah yang aman bukan hanya soal membuat aturan yang ketat. Yang lebih penting adalah membangun budaya saling menghargai sejak dini. Anak-anak perlu diajarkan bahwa setiap ucapan dan tindakan memiliki dampak bagi orang lain.
Pada akhirnya, bullying bukan hanya tanggung jawab guru BK. Guru kelas, orang tua, kepala sekolah, bahkan teman sebaya memiliki peran yang sama pentingnya. Namun, guru BK tetap menjadi salah satu garda terdepan dalam memberikan pendampingan psikologis agar setiap anak merasa didengar, dihargai, dan memiliki tempat yang aman ketika menghadapi masalah.
Menurut saya, sekolah yang baik bukan hanya sekolah yang mampu menghasilkan siswa yang berprestasi, tetapi juga sekolah yang membuat setiap anak merasa aman untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Karena ketika seorang anak takut datang ke sekolah akibat bullying, mereka akan kehilangan kepercayaan diri dan prestasi belajar mereka akan menjadi menurun. (**)
Penulis: Pebriyanti Tanjung, Mahasiswi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Katolik St. Thomas Medan.
“Ah namanya juga anak-anak. Nanti juga baikan sendiri.”
Kalimat seperti ini masih sering kita dengar ketika ada kasus bullying di sekolah. Padahal, tidak semua yang dianggap bercanda benar-benar lucu bagi orang yang mengalaminya. Ada anak yang memilih diam, ada yang kehilangan kepercayaan diri, bahkan ada yang tidak lagi semangat datang kesekolah karena terus menjadi sasaran ejekan atau perlakuan yang tidak menyenangkan dari teman-temannya.
Masalahnya, baru kita sadari ketika dampaknya sudah besar. Padahal, bullying biasanya dimulai dari hal-hal kecil yang dianggap sepele seperti mengejek nama orang tua, memberi julukan yang merendahkan, mengucilkan teman dari kelompok, atau sengaja mempermalukan seseorang di depan teman-temanya, sampai menyebarkan cerita yang membuatnya dipermalukan. Karena dianggap “hal biasa”, perilaku ini sering dibiarkan. Lama-kelamaan, pelaku merasa tindakannya wajar, sementara korban memilih diam karena takut di ejek lebih jauh.
Menurut saya, inilah yang menjadi persoalan, kita terlalu fokus pada pelaku dan hukuman, tetapi sering lupa bertanya, mengapa bullying bisa terus terjadi kepada siswa?
Dari sudut pandang psikologi, setiap perilaku pasti memiliki penyebab.
Ada anak yang melakukan bullying karena ingin dianggap hebat oleh teman-temannya. Ada yang terbiasa melihat kekerasan di lingkungan sekitarnya. Ada pula yang belum mampu mengendalikan emosi atau belum memahami bahwa ucapannya dapat melukai orang lain.
Sementara itu, korban bullying sering mengalami penurunan rasa percaya diri dari lingkungan, bahkan prestasi belajarnya ikut menurun.
Sayangnya, masih banyak siswa yang menganggap ruang BK sebagai temapat “mengadili” bagi anak yang bermasalah. Padahal, fungsi guru BK jauh lebih luas. Guru BK hadir untuk mendampingi, mendengarkan, membantu siswa memahami masalahnya, serta menjadi solusi bersama.
Guru BK bukan hanya bertugas ketika masalah sudah terjadi, tetapi juga memiliki peran dalam mencengahnya melalui layanan bimbingan dan pembinaan karakter.
Selama menjalani asistensi di UPT SD Negeri 068007 Medan Tuntungan, saya justru belajar bahwa mencegah bullying tidak selalu dari aturan yang keras. bisa dimulai dari kebiasaan-kebiasaan sederhana di kelas. Guru selalu mengigatkan siswa untuk selalu saling menghargai saat belajar kelompok, memggunakan kata-kata yang sopan, dan tidak mengejek teman.
Ketika terjadi perselisihan, guru tidak langsung menyalahkan salah satu pihak, tetapi mengajak mereka duduk bersama, mendengarkan cerita masing-masing, lalu membimbing mereka menyelesaikan masalah dengan baik. pendekatan seperti ini membuat siswa belajar bahwa setiap konflik bisa diselesaikan tanpa kekerasan atau saling merendahkan.
Pengalaman tersebut membuat saya percaya bahwa menciptakan sekolah yang aman bukan hanya soal membuat aturan yang ketat. Yang lebih penting adalah membangun budaya saling menghargai sejak dini. Anak-anak perlu diajarkan bahwa setiap ucapan dan tindakan memiliki dampak bagi orang lain.
Pada akhirnya, bullying bukan hanya tanggung jawab guru BK. Guru kelas, orang tua, kepala sekolah, bahkan teman sebaya memiliki peran yang sama pentingnya. Namun, guru BK tetap menjadi salah satu garda terdepan dalam memberikan pendampingan psikologis agar setiap anak merasa didengar, dihargai, dan memiliki tempat yang aman ketika menghadapi masalah.
Menurut saya, sekolah yang baik bukan hanya sekolah yang mampu menghasilkan siswa yang berprestasi, tetapi juga sekolah yang membuat setiap anak merasa aman untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Karena ketika seorang anak takut datang ke sekolah akibat bullying, mereka akan kehilangan kepercayaan diri dan prestasi belajar mereka akan menjadi menurun. (**)
Penulis: Pebriyanti Tanjung, Mahasiswi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Katolik St. Thomas Medan.