Teks Foto: Rolim Magdalena Manik di SDN 064018 Medan Sunggal.
Indotodaynews.com - Medan
Pendidikan tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan akademik peserta didik, tetapi juga membentuk karakter, kepribadian, serta kemampuan sosial dan emosional mereka. Oleh karena itu, layanan bimbingan dan konseling (BK) menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan mendukung perkembangan peserta didik secara menyeluruh. Berdasarkan hasil wawancara di UPT SD Negeri 064018 Medan Sunggal, layanan BK tetap berjalan meskipun sekolah belum memiliki guru BK khusus. Kondisi ini menunjukkan bahwa kebutuhan peserta didik terhadap bimbingan tetap ada dan harus dipenuhi.
Hasil wawancara menunjukkan bahwa layanan BK selama ini dilaksanakan oleh wali kelas dan guru mata pelajaran. Mereka tidak hanya mengajar, tetapi juga menjadi tempat siswa menyampaikan berbagai permasalahan, seperti kesulitan belajar, konflik dengan teman, kurang percaya diri, hingga masalah emosional. Guru berperan sebagai pendidik, pembimbing, sekaligus orang tua kedua bagi peserta didik selama berada di sekolah.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa guru sekolah dasar memiliki tanggung jawab yang besar. Selain mengajar, guru juga harus memahami kondisi psikologis peserta didik yang masih berada pada masa perkembangan. Pada usia sekolah dasar, anak sedang belajar membentuk karakter, mengendalikan emosi, mengenal nilai-nilai kehidupan, dan belajar hidup bersama orang lain. Jika mereka tidak mendapatkan pendampingan yang tepat sejak dini, masalah yang terlihat sederhana dapat berkembang menjadi persoalan yang lebih besar di kemudian hari.
Menurut pandangan saya, hasil wawancara ini menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari nilai akademik, tetapi juga dari kemampuan sekolah menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi peserta didik. Saya melihat guru-guru di UPT SD Negeri 064018 Medan Sunggal telah menunjukkan dedikasi yang tinggi. Walaupun belum ada guru BK khusus, mereka tetap memberikan bimbingan kepada siswa dengan penuh kesabaran. Guru membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar, mendengarkan keluhan mereka, serta menyelesaikan konflik antarteman. Menurut saya, sikap seperti ini merupakan contoh nyata pendidikan yang berpusat pada kebutuhan peserta didik.
Salah satu hal yang paling menarik perhatian saya adalah pengakuan para siswa yang merasa nyaman menceritakan berbagai persoalan kepada guru. Salah seorang siswa, Daffa, menyampaikan bahwa ia tidak takut meminta bantuan ketika mengalami kesulitan belajar maupun saat menghadapi masalah dengan teman. Guru selalu memberikan nasihat dengan bahasa yang santun, sabar, dan tidak menghakimi. Pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter tidak hanya diberikan melalui pembelajaran di kelas, tetapi juga melalui sikap dan keteladanan guru dalam kehidupan sehari-hari.
Hal yang sama juga disampaikan oleh Rania. Menurutnya, hubungan yang hangat antara guru dan peserta didik menjadi kekuatan utama layanan bimbingan dan konseling di sekolah dasar. Ketika siswa merasa didengar dan dihargai, mereka lebih mudah menerima arahan, memperbaiki kesalahan, serta membangun rasa percaya diri. Menurut saya, hubungan seperti ini perlu terus dipertahankan karena memberikan dampak positif terhadap perkembangan akademik maupun karakter peserta didik.
Namun demikian, keberhasilan guru dalam memberikan pendampingan tidak berarti sekolah tidak memerlukan guru BK. Hasil wawancara menunjukkan bahwa para guru berharap adanya tenaga BK khusus agar penanganan masalah siswa dapat dilakukan secara lebih profesional, sistematis, dan berkelanjutan. Selama ini wali kelas harus membagi waktu antara mengajar, menyusun administrasi pembelajaran, melakukan penilaian, dan menangani berbagai permasalahan siswa. Tugas tersebut tentu tidak ringan apabila dilakukan tanpa dukungan guru BK.
Menurut Ibu Risda selaku guru PJOK, keberadaan guru BK di sekolah dasar sudah menjadi kebutuhan yang penting. Guru BK memiliki kompetensi untuk mengidentifikasi masalah peserta didik, memberikan layanan konseling, melakukan pendampingan, serta bekerja sama dengan orang tua dalam menyelesaikan berbagai persoalan siswa. Kehadiran guru BK bukan untuk menggantikan peran wali kelas, tetapi menjadi mitra yang saling melengkapi agar pelayanan kepada peserta didik semakin optimal.
Masih ada anggapan bahwa guru BK hanya diperlukan di jenjang SMP dan SMA. Menurut saya, anggapan tersebut perlu diubah. Justru pada jenjang sekolah dasar karakter anak mulai dibentuk. Nilai kejujuran, disiplin, tanggung jawab, kepedulian, kerja sama, dan pengendalian emosi berkembang pada masa ini. Oleh karena itu, layanan bimbingan dan konseling perlu diberikan sejak sekolah dasar.
Selain itu, hasil wawancara juga menunjukkan bahwa sebagian kesulitan belajar siswa dipengaruhi oleh kondisi keluarga. Ada siswa yang kurang mendapat pendampingan karena orang tua sibuk bekerja, sementara ada juga yang menghadapi keterbatasan ekonomi. Hal ini menunjukkan bahwa permasalahan siswa tidak hanya berasal dari sekolah, tetapi juga dari lingkungan keluarga. Oleh sebab itu, komunikasi yang baik antara guru dan orang tua menjadi salah satu kunci keberhasilan layanan bimbingan dan konseling.
Saya juga mengapresiasi kerja sama yang telah dibangun oleh para guru di UPT SD Negeri 064018 Medan Sunggal. Wali kelas, guru mata pelajaran, dan pihak sekolah saling berbagi informasi ketika menemukan siswa yang membutuhkan perhatian khusus. Mereka berdiskusi untuk menentukan solusi terbaik sehingga setiap peserta didik memperoleh pendampingan sesuai dengan kebutuhannya. Menurut saya, budaya kerja sama seperti ini perlu diterapkan di sekolah-sekolah lain karena keberhasilan pendidikan merupakan tanggung jawab bersama.
Meskipun demikian, pemerintah perlu memberikan perhatian yang lebih besar terhadap layanan BK di sekolah dasar. Penyediaan guru BK profesional harus menjadi salah satu prioritas. Selain itu, guru kelas juga perlu mendapatkan pelatihan mengenai komunikasi empatik, teknik konseling dasar, identifikasi masalah peserta didik, dan strategi pendampingan sesuai tahap perkembangan anak. Langkah ini akan memperkuat kualitas pelayanan pendidikan di sekolah.
Bagi saya, hasil wawancara ini memberikan pelajaran bahwa setiap anak memiliki cerita, kebutuhan, dan tantangan yang berbeda. Tidak semua permasalahan peserta didik terlihat dari nilai rapor atau hasil ujian. Ada anak yang membutuhkan perhatian, ada yang membutuhkan motivasi, dan ada pula yang hanya membutuhkan seseorang untuk mendengarkan keluhannya. Oleh karena itu, sekolah harus menjadi tempat yang tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga memberikan rasa aman, perhatian, dan kepedulian kepada setiap peserta didik.
Pada akhirnya, saya berharap layanan bimbingan dan konseling di sekolah dasar mendapat perhatian yang lebih besar dari pemerintah, sekolah, maupun masyarakat. Kehadiran guru BK, peningkatan kompetensi guru, serta kerja sama yang baik antara sekolah dan orang tua akan memperkuat layanan kepada peserta didik. Saya meyakini bahwa pendidikan yang berkualitas tidak hanya menghasilkan siswa yang cerdas secara akademik, tetapi juga membentuk generasi yang berkarakter, memiliki empati, mampu mengendalikan emosi, dan siap menghadapi tantangan kehidupan. Ketika setiap anak merasa didengar, dipahami, dan dibimbing, saat itulah sekolah telah menjalankan fungsi pendidikannya secara utuh. (**)
Penulis: Rolim Magdalena Manik
Mahasiswi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Katolik Santo Thomas Medan.
Pendidikan tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan akademik peserta didik, tetapi juga membentuk karakter, kepribadian, serta kemampuan sosial dan emosional mereka. Oleh karena itu, layanan bimbingan dan konseling (BK) menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan mendukung perkembangan peserta didik secara menyeluruh. Berdasarkan hasil wawancara di UPT SD Negeri 064018 Medan Sunggal, layanan BK tetap berjalan meskipun sekolah belum memiliki guru BK khusus. Kondisi ini menunjukkan bahwa kebutuhan peserta didik terhadap bimbingan tetap ada dan harus dipenuhi.
Hasil wawancara menunjukkan bahwa layanan BK selama ini dilaksanakan oleh wali kelas dan guru mata pelajaran. Mereka tidak hanya mengajar, tetapi juga menjadi tempat siswa menyampaikan berbagai permasalahan, seperti kesulitan belajar, konflik dengan teman, kurang percaya diri, hingga masalah emosional. Guru berperan sebagai pendidik, pembimbing, sekaligus orang tua kedua bagi peserta didik selama berada di sekolah.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa guru sekolah dasar memiliki tanggung jawab yang besar. Selain mengajar, guru juga harus memahami kondisi psikologis peserta didik yang masih berada pada masa perkembangan. Pada usia sekolah dasar, anak sedang belajar membentuk karakter, mengendalikan emosi, mengenal nilai-nilai kehidupan, dan belajar hidup bersama orang lain. Jika mereka tidak mendapatkan pendampingan yang tepat sejak dini, masalah yang terlihat sederhana dapat berkembang menjadi persoalan yang lebih besar di kemudian hari.
Menurut pandangan saya, hasil wawancara ini menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari nilai akademik, tetapi juga dari kemampuan sekolah menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi peserta didik. Saya melihat guru-guru di UPT SD Negeri 064018 Medan Sunggal telah menunjukkan dedikasi yang tinggi. Walaupun belum ada guru BK khusus, mereka tetap memberikan bimbingan kepada siswa dengan penuh kesabaran. Guru membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar, mendengarkan keluhan mereka, serta menyelesaikan konflik antarteman. Menurut saya, sikap seperti ini merupakan contoh nyata pendidikan yang berpusat pada kebutuhan peserta didik.
Salah satu hal yang paling menarik perhatian saya adalah pengakuan para siswa yang merasa nyaman menceritakan berbagai persoalan kepada guru. Salah seorang siswa, Daffa, menyampaikan bahwa ia tidak takut meminta bantuan ketika mengalami kesulitan belajar maupun saat menghadapi masalah dengan teman. Guru selalu memberikan nasihat dengan bahasa yang santun, sabar, dan tidak menghakimi. Pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter tidak hanya diberikan melalui pembelajaran di kelas, tetapi juga melalui sikap dan keteladanan guru dalam kehidupan sehari-hari.
Hal yang sama juga disampaikan oleh Rania. Menurutnya, hubungan yang hangat antara guru dan peserta didik menjadi kekuatan utama layanan bimbingan dan konseling di sekolah dasar. Ketika siswa merasa didengar dan dihargai, mereka lebih mudah menerima arahan, memperbaiki kesalahan, serta membangun rasa percaya diri. Menurut saya, hubungan seperti ini perlu terus dipertahankan karena memberikan dampak positif terhadap perkembangan akademik maupun karakter peserta didik.
Namun demikian, keberhasilan guru dalam memberikan pendampingan tidak berarti sekolah tidak memerlukan guru BK. Hasil wawancara menunjukkan bahwa para guru berharap adanya tenaga BK khusus agar penanganan masalah siswa dapat dilakukan secara lebih profesional, sistematis, dan berkelanjutan. Selama ini wali kelas harus membagi waktu antara mengajar, menyusun administrasi pembelajaran, melakukan penilaian, dan menangani berbagai permasalahan siswa. Tugas tersebut tentu tidak ringan apabila dilakukan tanpa dukungan guru BK.
Menurut Ibu Risda selaku guru PJOK, keberadaan guru BK di sekolah dasar sudah menjadi kebutuhan yang penting. Guru BK memiliki kompetensi untuk mengidentifikasi masalah peserta didik, memberikan layanan konseling, melakukan pendampingan, serta bekerja sama dengan orang tua dalam menyelesaikan berbagai persoalan siswa. Kehadiran guru BK bukan untuk menggantikan peran wali kelas, tetapi menjadi mitra yang saling melengkapi agar pelayanan kepada peserta didik semakin optimal.
Masih ada anggapan bahwa guru BK hanya diperlukan di jenjang SMP dan SMA. Menurut saya, anggapan tersebut perlu diubah. Justru pada jenjang sekolah dasar karakter anak mulai dibentuk. Nilai kejujuran, disiplin, tanggung jawab, kepedulian, kerja sama, dan pengendalian emosi berkembang pada masa ini. Oleh karena itu, layanan bimbingan dan konseling perlu diberikan sejak sekolah dasar.
Selain itu, hasil wawancara juga menunjukkan bahwa sebagian kesulitan belajar siswa dipengaruhi oleh kondisi keluarga. Ada siswa yang kurang mendapat pendampingan karena orang tua sibuk bekerja, sementara ada juga yang menghadapi keterbatasan ekonomi. Hal ini menunjukkan bahwa permasalahan siswa tidak hanya berasal dari sekolah, tetapi juga dari lingkungan keluarga. Oleh sebab itu, komunikasi yang baik antara guru dan orang tua menjadi salah satu kunci keberhasilan layanan bimbingan dan konseling.
Saya juga mengapresiasi kerja sama yang telah dibangun oleh para guru di UPT SD Negeri 064018 Medan Sunggal. Wali kelas, guru mata pelajaran, dan pihak sekolah saling berbagi informasi ketika menemukan siswa yang membutuhkan perhatian khusus. Mereka berdiskusi untuk menentukan solusi terbaik sehingga setiap peserta didik memperoleh pendampingan sesuai dengan kebutuhannya. Menurut saya, budaya kerja sama seperti ini perlu diterapkan di sekolah-sekolah lain karena keberhasilan pendidikan merupakan tanggung jawab bersama.
Meskipun demikian, pemerintah perlu memberikan perhatian yang lebih besar terhadap layanan BK di sekolah dasar. Penyediaan guru BK profesional harus menjadi salah satu prioritas. Selain itu, guru kelas juga perlu mendapatkan pelatihan mengenai komunikasi empatik, teknik konseling dasar, identifikasi masalah peserta didik, dan strategi pendampingan sesuai tahap perkembangan anak. Langkah ini akan memperkuat kualitas pelayanan pendidikan di sekolah.
Bagi saya, hasil wawancara ini memberikan pelajaran bahwa setiap anak memiliki cerita, kebutuhan, dan tantangan yang berbeda. Tidak semua permasalahan peserta didik terlihat dari nilai rapor atau hasil ujian. Ada anak yang membutuhkan perhatian, ada yang membutuhkan motivasi, dan ada pula yang hanya membutuhkan seseorang untuk mendengarkan keluhannya. Oleh karena itu, sekolah harus menjadi tempat yang tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga memberikan rasa aman, perhatian, dan kepedulian kepada setiap peserta didik.
Pada akhirnya, saya berharap layanan bimbingan dan konseling di sekolah dasar mendapat perhatian yang lebih besar dari pemerintah, sekolah, maupun masyarakat. Kehadiran guru BK, peningkatan kompetensi guru, serta kerja sama yang baik antara sekolah dan orang tua akan memperkuat layanan kepada peserta didik. Saya meyakini bahwa pendidikan yang berkualitas tidak hanya menghasilkan siswa yang cerdas secara akademik, tetapi juga membentuk generasi yang berkarakter, memiliki empati, mampu mengendalikan emosi, dan siap menghadapi tantangan kehidupan. Ketika setiap anak merasa didengar, dipahami, dan dibimbing, saat itulah sekolah telah menjalankan fungsi pendidikannya secara utuh. (**)
Penulis: Rolim Magdalena Manik
Mahasiswi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Katolik Santo Thomas Medan.