Teks Foto: Ebita Nanda Br. Depari di SDN 068008 Medan Tuntungan.
Indotodaynews.com - Medan
Karakter merupakan fondasi utama dalam pembentukan kepribadian seseorang. Pendidikan yang berkualitas tidak hanya bertujuan mencerdaskan peserta didik dari aspek akademik, tetapi juga membentuk manusia yang memiliki nilai-nilai moral, etika, dan kepribadian yang baik. Di era globalisasi dan perkembangan teknologi yang sangat pesat saat ini, tantangan dunia pendidikan semakin kompleks. Peserta didik tidak hanya dituntut memiliki kemampuan berpikir kritis dan kreatif, tetapi juga harus memiliki karakter yang kuat agar mampu menghadapi berbagai pengaruh negatif yang berasal dari lingkungan maupun media digital. Oleh karena itu, pembentukan karakter menjadi salah satu tujuan utama pendidikan di Indonesia sebagaimana tercantum dalam tujuan pendidikan nasional.
Sekolah sebagai lembaga pendidikan memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk karakter peserta didik. Seluruh warga sekolah memiliki peran penting dalam proses tersebut, mulai dari kepala sekolah, guru kelas, guru mata pelajaran, tenaga kependidikan, hingga guru Bimbingan dan Konseling (BK). Di antara seluruh komponen tersebut, guru BK memiliki posisi yang sangat strategis karena berperan membantu peserta didik memahami dirinya, mengembangkan potensi yang dimiliki, mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi, serta membimbing siswa agar mampu berperilaku sesuai dengan nilai-nilai moral dan norma yang berlaku di masyarakat.
Selama melaksanakan kegiatan observasi dan asistensi mengajar di SD Negeri 068008 Medan Tuntungan, saya memperoleh pengalaman yang memberikan pemahaman bahwa pembentukan karakter siswa telah menjadi perhatian sekolah. Berbagai kegiatan pembiasaan positif diterapkan setiap hari, seperti berdoa sebelum dan sesudah pembelajaran, menyanyikan lagu kebangsaan, memberikan salam kepada guru, menjaga kebersihan kelas melalui kegiatan piket, membuang sampah pada tempatnya, serta membiasakan sikap saling menghormati antar teman. Guru juga selalu memberikan motivasi kepada siswa agar memiliki semangat belajar, bersikap jujur, disiplin, dan bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan.
Namun, berdasarkan hasil pengamatan saya, masih terdapat beberapa perilaku siswa yang menunjukkan bahwa pembentukan karakter memerlukan pembinaan yang lebih intensif. Misalnya, masih ditemukan siswa yang datang terlambat ke sekolah, kurang disiplin dalam mengumpulkan tugas, berbicara saat guru sedang menjelaskan materi, mengganggu teman selama proses pembelajaran, serta kurang mampu mengendalikan emosi ketika terjadi perbedaan pendapat atau perselisihan. Bahkan terdapat beberapa siswa yang masih kurang peduli terhadap kebersihan lingkungan sekolah sehingga harus selalu diingatkan oleh guru.
Menurut pandangan saya, kondisi tersebut merupakan hal yang wajar mengingat siswa sekolah dasar masih berada pada tahap perkembangan karakter dan kepribadian. Pada usia ini, anak masih belajar membedakan perilaku yang baik dan kurang baik sehingga membutuhkan bimbingan yang terus-menerus. Oleh sebab itu, kehadiran guru BK menjadi sangat penting untuk membantu peserta didik memahami konsekuensi dari setiap perilaku yang dilakukan serta membimbing mereka agar mampu mengambil keputusan yang tepat dalam kehidupan sehari-hari.
Guru BK bukan hanya bertugas menangani siswa yang memiliki masalah atau melakukan pelanggaran tata tertib sekolah. Pandangan seperti ini masih sering ditemukan di masyarakat sehingga fungsi guru BK terkadang kurang dipahami secara tepat. Padahal, guru BK memiliki tugas yang jauh lebih luas, yaitu memberikan layanan kepada seluruh peserta didik agar mampu berkembang secara optimal dalam aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karier sesuai dengan tahap perkembangannya. Melalui layanan bimbingan dan konseling, guru BK dapat membantu siswa mengenali potensi yang dimiliki, meningkatkan rasa percaya diri, membangun hubungan sosial yang baik, serta menanamkan nilai-nilai karakter yang positif.
Menurut saya, salah satu peran terpenting guru BK adalah menjadi pendengar yang baik bagi peserta didik. Tidak semua siswa merasa nyaman menceritakan masalah yang mereka alami kepada guru kelas maupun orang tua. Ada kalanya siswa lebih mudah terbuka kepada guru BK karena merasa tidak dihakimi dan mendapatkan perhatian. Ketika siswa merasa didengarkan dan dihargai, mereka akan lebih mudah menerima arahan serta termotivasi untuk memperbaiki sikap maupun perilakunya. Hubungan yang baik antara guru BK dan siswa juga dapat membantu mencegah munculnya berbagai permasalahan yang lebih serius di kemudian hari.
Selain memberikan layanan konseling individual, guru BK juga dapat melaksanakan layanan bimbingan klasikal yang membahas berbagai materi mengenai pendidikan karakter. Misalnya, tentang pentingnya kejujuran, disiplin, tanggung jawab, kerja sama, toleransi, rasa percaya diri, sopan santun, kepedulian terhadap lingkungan, serta etika dalam menggunakan media sosial. Penyampaian materi tersebut akan lebih menarik apabila dilakukan melalui permainan edukatif, diskusi kelompok, simulasi, cerita inspiratif, maupun kegiatan yang melibatkan partisipasi aktif siswa sehingga mereka tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Saya juga melihat bahwa sebagian besar siswa di SD Negeri 068008 Medan Tuntungan memiliki semangat belajar yang tinggi. Mereka tampak antusias mengikuti pembelajaran, aktif bertanya kepada guru, serta senang bekerja sama dalam kegiatan kelompok. Hal tersebut merupakan modal yang sangat baik untuk membangun karakter positif siswa. Namun demikian, masih terdapat beberapa siswa yang mudah kehilangan konsentrasi sehingga sering berbicara sendiri, bercanda dengan teman, atau tidak memperhatikan ketika guru sedang menjelaskan materi. Apabila perilaku tersebut tidak diarahkan sejak dini, dikhawatirkan akan memengaruhi proses belajar siswa lain sekaligus menghambat perkembangan karakter disiplin dan tanggung jawab.
Di era digital saat ini, tantangan pembentukan karakter menjadi semakin besar. Anak-anak memiliki akses yang sangat mudah terhadap internet, media sosial, dan berbagai bentuk hiburan digital. Apabila tidak mendapatkan pendampingan yang baik, mereka dapat terpengaruh oleh konten-konten yang tidak sesuai dengan usia maupun nilai-nilai moral. Oleh karena itu, guru BK perlu memberikan edukasi mengenai literasi digital, etika dalam menggunakan media sosial, cara berkomunikasi yang baik di dunia maya, serta pentingnya memanfaatkan teknologi untuk kegiatan yang positif dan bermanfaat.
Menurut saya, keberhasilan pembentukan karakter tidak dapat dicapai hanya melalui pemberian nasihat ataupun hukuman. Anak-anak akan lebih mudah belajar melalui pembiasaan, keteladanan, pengalaman langsung, serta lingkungan yang mendukung. Seluruh guru harus menjadi contoh dalam bersikap jujur, disiplin, bertanggung jawab, menghargai orang lain, dan menjaga tutur kata. Ketika siswa melihat perilaku baik yang dilakukan oleh guru setiap hari, mereka akan lebih mudah meniru dan menjadikannya sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, peran orang tua juga tidak kalah penting. Pendidikan karakter harus dimulai dari lingkungan keluarga karena keluarga merupakan tempat pertama anak belajar mengenal nilai-nilai kehidupan. Guru BK perlu menjalin komunikasi yang baik dengan orang tua agar perkembangan perilaku siswa dapat dipantau secara bersama-sama. Apabila terdapat perubahan perilaku pada siswa, baik di sekolah maupun di rumah, maka guru dan orang tua dapat bekerja sama mencari solusi terbaik tanpa menyalahkan satu sama lain. Kolaborasi yang baik antara sekolah dan keluarga akan memberikan dampak positif terhadap perkembangan karakter peserta didik.
Saya berpendapat bahwa keberhasilan guru BK dalam membentuk karakter siswa tidak dapat diukur dalam waktu yang singkat. Pembentukan karakter merupakan proses yang berlangsung secara terus-menerus dan memerlukan kesabaran, konsistensi, kerja sama, serta komitmen dari seluruh warga sekolah. Guru BK harus mampu menjadi sahabat, motivator, pembimbing, sekaligus teladan bagi siswa sehingga mereka merasa aman, nyaman, dan percaya diri dalam mengembangkan potensi yang dimiliki.
Sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar yang melaksanakan observasi di SD Negeri 068008 Medan Tuntungan, saya menyadari bahwa keberadaan guru BK memiliki kontribusi yang sangat besar terhadap keberhasilan pendidikan karakter di sekolah. Guru BK bukan hanya membantu menyelesaikan permasalahan siswa, tetapi juga berperan membentuk generasi yang memiliki akhlak mulia, bertanggung jawab, disiplin, mandiri, peduli terhadap sesama, serta mampu menghadapi tantangan kehidupan di masa depan.
Menurut saya, pembentukan karakter siswa akan lebih optimal apabila guru Bimbingan dan Konseling bekerja sama secara aktif dengan kepala sekolah, guru kelas, guru mata pelajaran, orang tua, serta seluruh warga sekolah. Guru BK perlu melaksanakan layanan bimbingan secara terprogram dan berkelanjutan dengan materi yang berkaitan dengan penguatan nilai-nilai karakter seperti kejujuran, disiplin, tanggung jawab, kerja sama, toleransi, kepedulian, dan rasa hormat kepada orang lain. Selain itu, sekolah juga perlu membiasakan kegiatan-kegiatan positif yang dilakukan setiap hari agar nilai-nilai karakter menjadi bagian dari kebiasaan siswa.
Guru BK juga diharapkan memberikan layanan konseling individual maupun kelompok kepada siswa yang membutuhkan pendampingan khusus, serta melakukan evaluasi secara berkala terhadap perkembangan perilaku peserta didik. Di sisi lain, orang tua perlu dilibatkan melalui komunikasi yang intensif agar pembinaan karakter dapat dilakukan secara konsisten baik di sekolah maupun di rumah. Dengan adanya kerja sama yang baik antara sekolah, keluarga, dan masyarakat, pembentukan karakter peserta didik akan berlangsung secara lebih efektif sehingga mampu menghasilkan generasi yang cerdas, berintegritas, berakhlak mulia, serta siap menghadapi tantangan perkembangan zaman. (**)
Penulis: Ebita Nanda Br. Depari, Mahasiswi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Katolik Santo Thomas Medan.
Karakter merupakan fondasi utama dalam pembentukan kepribadian seseorang. Pendidikan yang berkualitas tidak hanya bertujuan mencerdaskan peserta didik dari aspek akademik, tetapi juga membentuk manusia yang memiliki nilai-nilai moral, etika, dan kepribadian yang baik. Di era globalisasi dan perkembangan teknologi yang sangat pesat saat ini, tantangan dunia pendidikan semakin kompleks. Peserta didik tidak hanya dituntut memiliki kemampuan berpikir kritis dan kreatif, tetapi juga harus memiliki karakter yang kuat agar mampu menghadapi berbagai pengaruh negatif yang berasal dari lingkungan maupun media digital. Oleh karena itu, pembentukan karakter menjadi salah satu tujuan utama pendidikan di Indonesia sebagaimana tercantum dalam tujuan pendidikan nasional.
Sekolah sebagai lembaga pendidikan memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk karakter peserta didik. Seluruh warga sekolah memiliki peran penting dalam proses tersebut, mulai dari kepala sekolah, guru kelas, guru mata pelajaran, tenaga kependidikan, hingga guru Bimbingan dan Konseling (BK). Di antara seluruh komponen tersebut, guru BK memiliki posisi yang sangat strategis karena berperan membantu peserta didik memahami dirinya, mengembangkan potensi yang dimiliki, mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi, serta membimbing siswa agar mampu berperilaku sesuai dengan nilai-nilai moral dan norma yang berlaku di masyarakat.
Selama melaksanakan kegiatan observasi dan asistensi mengajar di SD Negeri 068008 Medan Tuntungan, saya memperoleh pengalaman yang memberikan pemahaman bahwa pembentukan karakter siswa telah menjadi perhatian sekolah. Berbagai kegiatan pembiasaan positif diterapkan setiap hari, seperti berdoa sebelum dan sesudah pembelajaran, menyanyikan lagu kebangsaan, memberikan salam kepada guru, menjaga kebersihan kelas melalui kegiatan piket, membuang sampah pada tempatnya, serta membiasakan sikap saling menghormati antar teman. Guru juga selalu memberikan motivasi kepada siswa agar memiliki semangat belajar, bersikap jujur, disiplin, dan bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan.
Namun, berdasarkan hasil pengamatan saya, masih terdapat beberapa perilaku siswa yang menunjukkan bahwa pembentukan karakter memerlukan pembinaan yang lebih intensif. Misalnya, masih ditemukan siswa yang datang terlambat ke sekolah, kurang disiplin dalam mengumpulkan tugas, berbicara saat guru sedang menjelaskan materi, mengganggu teman selama proses pembelajaran, serta kurang mampu mengendalikan emosi ketika terjadi perbedaan pendapat atau perselisihan. Bahkan terdapat beberapa siswa yang masih kurang peduli terhadap kebersihan lingkungan sekolah sehingga harus selalu diingatkan oleh guru.
Menurut pandangan saya, kondisi tersebut merupakan hal yang wajar mengingat siswa sekolah dasar masih berada pada tahap perkembangan karakter dan kepribadian. Pada usia ini, anak masih belajar membedakan perilaku yang baik dan kurang baik sehingga membutuhkan bimbingan yang terus-menerus. Oleh sebab itu, kehadiran guru BK menjadi sangat penting untuk membantu peserta didik memahami konsekuensi dari setiap perilaku yang dilakukan serta membimbing mereka agar mampu mengambil keputusan yang tepat dalam kehidupan sehari-hari.
Guru BK bukan hanya bertugas menangani siswa yang memiliki masalah atau melakukan pelanggaran tata tertib sekolah. Pandangan seperti ini masih sering ditemukan di masyarakat sehingga fungsi guru BK terkadang kurang dipahami secara tepat. Padahal, guru BK memiliki tugas yang jauh lebih luas, yaitu memberikan layanan kepada seluruh peserta didik agar mampu berkembang secara optimal dalam aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karier sesuai dengan tahap perkembangannya. Melalui layanan bimbingan dan konseling, guru BK dapat membantu siswa mengenali potensi yang dimiliki, meningkatkan rasa percaya diri, membangun hubungan sosial yang baik, serta menanamkan nilai-nilai karakter yang positif.
Menurut saya, salah satu peran terpenting guru BK adalah menjadi pendengar yang baik bagi peserta didik. Tidak semua siswa merasa nyaman menceritakan masalah yang mereka alami kepada guru kelas maupun orang tua. Ada kalanya siswa lebih mudah terbuka kepada guru BK karena merasa tidak dihakimi dan mendapatkan perhatian. Ketika siswa merasa didengarkan dan dihargai, mereka akan lebih mudah menerima arahan serta termotivasi untuk memperbaiki sikap maupun perilakunya. Hubungan yang baik antara guru BK dan siswa juga dapat membantu mencegah munculnya berbagai permasalahan yang lebih serius di kemudian hari.
Selain memberikan layanan konseling individual, guru BK juga dapat melaksanakan layanan bimbingan klasikal yang membahas berbagai materi mengenai pendidikan karakter. Misalnya, tentang pentingnya kejujuran, disiplin, tanggung jawab, kerja sama, toleransi, rasa percaya diri, sopan santun, kepedulian terhadap lingkungan, serta etika dalam menggunakan media sosial. Penyampaian materi tersebut akan lebih menarik apabila dilakukan melalui permainan edukatif, diskusi kelompok, simulasi, cerita inspiratif, maupun kegiatan yang melibatkan partisipasi aktif siswa sehingga mereka tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Saya juga melihat bahwa sebagian besar siswa di SD Negeri 068008 Medan Tuntungan memiliki semangat belajar yang tinggi. Mereka tampak antusias mengikuti pembelajaran, aktif bertanya kepada guru, serta senang bekerja sama dalam kegiatan kelompok. Hal tersebut merupakan modal yang sangat baik untuk membangun karakter positif siswa. Namun demikian, masih terdapat beberapa siswa yang mudah kehilangan konsentrasi sehingga sering berbicara sendiri, bercanda dengan teman, atau tidak memperhatikan ketika guru sedang menjelaskan materi. Apabila perilaku tersebut tidak diarahkan sejak dini, dikhawatirkan akan memengaruhi proses belajar siswa lain sekaligus menghambat perkembangan karakter disiplin dan tanggung jawab.
Di era digital saat ini, tantangan pembentukan karakter menjadi semakin besar. Anak-anak memiliki akses yang sangat mudah terhadap internet, media sosial, dan berbagai bentuk hiburan digital. Apabila tidak mendapatkan pendampingan yang baik, mereka dapat terpengaruh oleh konten-konten yang tidak sesuai dengan usia maupun nilai-nilai moral. Oleh karena itu, guru BK perlu memberikan edukasi mengenai literasi digital, etika dalam menggunakan media sosial, cara berkomunikasi yang baik di dunia maya, serta pentingnya memanfaatkan teknologi untuk kegiatan yang positif dan bermanfaat.
Menurut saya, keberhasilan pembentukan karakter tidak dapat dicapai hanya melalui pemberian nasihat ataupun hukuman. Anak-anak akan lebih mudah belajar melalui pembiasaan, keteladanan, pengalaman langsung, serta lingkungan yang mendukung. Seluruh guru harus menjadi contoh dalam bersikap jujur, disiplin, bertanggung jawab, menghargai orang lain, dan menjaga tutur kata. Ketika siswa melihat perilaku baik yang dilakukan oleh guru setiap hari, mereka akan lebih mudah meniru dan menjadikannya sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, peran orang tua juga tidak kalah penting. Pendidikan karakter harus dimulai dari lingkungan keluarga karena keluarga merupakan tempat pertama anak belajar mengenal nilai-nilai kehidupan. Guru BK perlu menjalin komunikasi yang baik dengan orang tua agar perkembangan perilaku siswa dapat dipantau secara bersama-sama. Apabila terdapat perubahan perilaku pada siswa, baik di sekolah maupun di rumah, maka guru dan orang tua dapat bekerja sama mencari solusi terbaik tanpa menyalahkan satu sama lain. Kolaborasi yang baik antara sekolah dan keluarga akan memberikan dampak positif terhadap perkembangan karakter peserta didik.
Saya berpendapat bahwa keberhasilan guru BK dalam membentuk karakter siswa tidak dapat diukur dalam waktu yang singkat. Pembentukan karakter merupakan proses yang berlangsung secara terus-menerus dan memerlukan kesabaran, konsistensi, kerja sama, serta komitmen dari seluruh warga sekolah. Guru BK harus mampu menjadi sahabat, motivator, pembimbing, sekaligus teladan bagi siswa sehingga mereka merasa aman, nyaman, dan percaya diri dalam mengembangkan potensi yang dimiliki.
Sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar yang melaksanakan observasi di SD Negeri 068008 Medan Tuntungan, saya menyadari bahwa keberadaan guru BK memiliki kontribusi yang sangat besar terhadap keberhasilan pendidikan karakter di sekolah. Guru BK bukan hanya membantu menyelesaikan permasalahan siswa, tetapi juga berperan membentuk generasi yang memiliki akhlak mulia, bertanggung jawab, disiplin, mandiri, peduli terhadap sesama, serta mampu menghadapi tantangan kehidupan di masa depan.
Menurut saya, pembentukan karakter siswa akan lebih optimal apabila guru Bimbingan dan Konseling bekerja sama secara aktif dengan kepala sekolah, guru kelas, guru mata pelajaran, orang tua, serta seluruh warga sekolah. Guru BK perlu melaksanakan layanan bimbingan secara terprogram dan berkelanjutan dengan materi yang berkaitan dengan penguatan nilai-nilai karakter seperti kejujuran, disiplin, tanggung jawab, kerja sama, toleransi, kepedulian, dan rasa hormat kepada orang lain. Selain itu, sekolah juga perlu membiasakan kegiatan-kegiatan positif yang dilakukan setiap hari agar nilai-nilai karakter menjadi bagian dari kebiasaan siswa.
Guru BK juga diharapkan memberikan layanan konseling individual maupun kelompok kepada siswa yang membutuhkan pendampingan khusus, serta melakukan evaluasi secara berkala terhadap perkembangan perilaku peserta didik. Di sisi lain, orang tua perlu dilibatkan melalui komunikasi yang intensif agar pembinaan karakter dapat dilakukan secara konsisten baik di sekolah maupun di rumah. Dengan adanya kerja sama yang baik antara sekolah, keluarga, dan masyarakat, pembentukan karakter peserta didik akan berlangsung secara lebih efektif sehingga mampu menghasilkan generasi yang cerdas, berintegritas, berakhlak mulia, serta siap menghadapi tantangan perkembangan zaman. (**)
Penulis: Ebita Nanda Br. Depari, Mahasiswi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Katolik Santo Thomas Medan.