Pandangan Tentang Seorang Guru BK

Teks Foto: Winardo Limbong di Ruang kelas SD.

Indotodaynews.com - Medan

"Guru BK di SD Bukan Sekadar Guru Penengah, Tapi Pondasi Karakter Anak"

Dulu waktu kecil, saya kira Guru BK itu guru yang galak. Kursinya ada di pojok, pintunya sering tertutup, dan yang masuk ke sana pasti anak "bermasalah".

Tapi setelah dewasa dan melihat realita di SD, saya sadar. Pemikiran itu salah besar. Ternyata Di SD, Guru BK bukan tukang denda. Bukan juga hakim yang nentuin siapa salah siapa benar.

Guru BK di SD adalah tukang pondasi

Anak SD itu seperti rumah yang baru dibangun. Temboknya masih basah, atapnya belum kokoh. Sekali diguyur hujan ejekan, sekali diterpa angin tekanan, bisa langsung miring. Nah, Guru BK lah yang memastikan pondasinya tidak retak sejak awal.

Kenapa Disebut Pondasi?

Karena karakter tidak tumbuh tiba-tiba pas anak SMP. Dia dibentuk dari hal-hal kecil di SD.

Dari cara gurunya memanggil nama. Dari cara temannya memperlakukan saat presentasi salah. Dari cara dia belajar kalah saat lomba. Dari cara dia melihat gurunya marah atau memaafkan.

Semua itu numpuk jadi satu: konsep diri, rasa percaya diri, cara bersosial, cara mengelola emosi. Dan siapa orang yang paling punya waktu dan ilmu untuk mengawal proses itu? Guru BK.

Guru mapel datang mengajar lalu pergi. Wali kelas kejar target kurikulum. Kepala sekolah urus kebijakan.

Hanya Guru BK yang memang tugas utamanya adalah jiwa. Menyelami, mendengar, dan membentuk.

Kalau Hanya Jadi "Guru Penengah" Itu Kurang

Selama ini Guru BK sering dipanggil saat sudah terjadi masalah. Anak berkelahi, baru ke BK. Anak nyontek, baru ke BK. Anak pendiam sebulan, baru disadari. Itu namanya pemadam kebakaran. Datang setelah api besar. Padahal di SD kita butuh Guru BK yang jadi "arsitek". Yang masuk ke kelas tiap minggu bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk mengajar tentang perasaan. Tentang cara bilang "maaf". Tentang cara bilang "aku butuh bantuan". Tentang cara menghargai perbedaan.

Guru BK yang pondasi karakternya kuat tidak akan menunggu ada korban bullying. Dia dari awal sudah membangun budaya "di kelas kita tidak mengejek".

Guru BK yang pondasi karakternya kuat tidak akan menunggu ada anak depresi. Dia dari awal sudah membuka "pojok tenang" dan bilang ke anak: "Kalau capek, kamu boleh istirahat di sini".

Bagaimana Guru BK Menjadi Pondasi Itu?

Pertama, dengan menjadi teladan bahasa. Anak SD meniru. Kalau Guru BK bisa menegur tanpa membentak, anak akan belajar menegur tanpa menyakiti.

Kedua, dengan membuat sekolah terasa aman. Aman artinya anak tidak takut salah. Anak berani bertanya. Anak berani jujur. Rasa aman ini tidak muncul sendiri. Harus didesain oleh Guru BK bersama guru kelas.

Ketiga, dengan menjembatani rumah dan sekolah. Karakter akan hancur kalau di sekolah diajarkan sabar, di rumah dibentak tiap hari. Guru BK harus berani masuk ke ranah orang tua. Bukan menggurui, tapi mengajak kerjasama.

Keempat, dengan melihat setiap anak sebagai pribadi. Bukan sebagai "nilai". Anak yang nilainya jelek bukan berarti karakternya jelek. Anak yang pendiam bukan berarti bermasalah. Guru BK yang baik melihat keunikan itu dan memupuknya.

Tapi Kita Masih Sering Mengabaikannya

Ironisnya, di banyak SD posisi Guru BK masih dianggap sebelah mata. Satu Guru BK bisa pegang 3 sekolah. Ruang BK dijadikan gudang. Jam BK dipotong untuk latihan upacara. Padahal kita mau anak jadi generasi emas, jujur, berintegritas, tangguh. Tapi pondasinya tidak pernah kita kuatkan.

Coba bayangkan. Kita bangun gedung 10 lantai tapi pondasinya asal-asalan. Pasti roboh. Sama dengan pendidikan. Kita kejar prestasi, kejar ranking, kejar teknologi. Tapi kalau anaknya rapuh mental, tidak punya empati, tidak bisa kerja sama, untuk apa?

Saya percaya satu hal 20 tahun dari sekarang, tidak ada HRD yang bertanya "Kamu dulu SD ranking berapa".
Yang ditanya adalah "Kamu bisa dipercaya tidak? Kamu bisa memimpin tidak? Kamu bisa gagal lalu bangkit lagi tidak?"
Sebab semua jawaban itu lahir dari SD.

Maka Guru BK di SD bukan sekedar penengah.
Dia adalah orang pertama yang menanamkan: "Kamu berharga".
Dia adalah orang pertama yang mengajarkan: "Gagal itu wajar".
Dia adalah orang pertama yang membuktikan: "Ada orang dewasa yang mau mendengarkanmu".

Bangsa ini tidak akan kuat kalau pondasi karakternya keropos dan pondasi karakter itu, namanya Guru BK di Sekolah Dasar. Karena anak yang hari ini merasa aman di sekolah, besok dia yang akan membuat Indonesia jadi tempat yang aman juga. (**)

Penulis: Winardo Limbong, Mahasiswa Pendidikan Guru sekolah Dasar, Universitas Katolik Santo Thomas Medan.