Teks Foto: Kereta Cepat dan Luhut Binsar Panjaitan.
Indotodaynews.id - Jakarta
Proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung atau Whoosh kembali jadi sorotan publik.
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan blak-blakan menyebut proyek kebanggaan era Presiden ke-7 Joko Widodo itu sudah “busuk” sejak pertama kali ia ambil alih pada tahun 2021.
“Jadi memang saya menerima proyek (Whoosh) sudah busuk itu barang,” ujar Luhut di Jakarta, Kamis (16/10/2025).
Pernyataan keras itu kembali membuka deretan persoalan lama yang membelit proyek kereta cepat pertama di Asia Tenggara ini.
Berikut lima masalah besar yang selama ini membayangi Whoosh:
1. Biaya Membengkak Gila-gilaan
Awalnya, proyek Whoosh diperkirakan menelan biaya US$5,13 miliar atau sekitar Rp76,9 triliun (kurs Rp15.000).
Namun dalam perjalanan, angka itu naik jadi US$6,07 miliar dan terus membengkak hingga US$8 miliar atau sekitar Rp120 triliun di tahun 2021.
Pembengkakan biaya ini jauh dari janji awal China yang disebut-sebut lebih murah dari penawaran Jepang.
2. Ingkar Janji: Tak Pakai APBN Tapi Nyatanya…
Presiden Jokowi sempat menegaskan proyek ini murni kerja sama business to business (B2B) tanpa sentuhan APBN.
Namun pada 2022, pemerintah justru menyuntikkan Rp4,1 triliun dana APBN lewat skema Penyertaan Modal Negara (PMN) ke PT KAI.
Janji tak pakai uang rakyat pun terbukti hanya tinggal slogan.
3. Proyek Dikerjakan Serampangan
Masalah teknis juga tak kalah pelik.
Pembangunan pilar LRT di KM 3+800 dilakukan tanpa izin dan dinilai berpotensi membahayakan pengguna jalan.
Kementerian PUPR menegur keras karena sistem drainase yang buruk membuat Tol Jakarta–Cikampek sering tergenang dan macet.
Pekerjaan pun sempat dihentikan dua minggu pada Maret 2020 akibat pelanggaran prosedur.
4. Jadwal Operasional Molor Bertahun-tahun
Proyek Whoosh mulai dibangun tahun 2016 dan ditargetkan selesai pada 2019.
Namun pandemi Covid-19 membuat semua tertunda.
Pembangunan baru dilanjut lagi pada 2021 dan baru resmi beroperasi pada 17 Oktober 2023, empat tahun dari target awal.
5. Balik Modal Butuh 38 Tahun
Direktur Utama KCIC Dwiyana Slamet Riyadi menyebut, proyek ini baru akan balik modal setelah 38 tahun.
Artinya, keuntungan baru bisa dirasakan sekitar tahun 2061, itu pun jika semua berjalan sesuai rencana.
Sementara masa konsesi KCIC dengan China mencapai 50 tahun, yang berarti keuntungan harus tetap dibagi meski modal sudah kembali.
Pernyataan Luhut ini kembali memicu perdebatan publik soal transparansi proyek strategis nasional dan efektivitas penggunaan dana negara.
Meski Whoosh kini telah beroperasi, bayang-bayang pembengkakan biaya dan lemahnya pengawasan masih menjadi pekerjaan rumah besar pemerintah. (*)
Proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung atau Whoosh kembali jadi sorotan publik.
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan blak-blakan menyebut proyek kebanggaan era Presiden ke-7 Joko Widodo itu sudah “busuk” sejak pertama kali ia ambil alih pada tahun 2021.
“Jadi memang saya menerima proyek (Whoosh) sudah busuk itu barang,” ujar Luhut di Jakarta, Kamis (16/10/2025).
Pernyataan keras itu kembali membuka deretan persoalan lama yang membelit proyek kereta cepat pertama di Asia Tenggara ini.
Berikut lima masalah besar yang selama ini membayangi Whoosh:
1. Biaya Membengkak Gila-gilaan
Awalnya, proyek Whoosh diperkirakan menelan biaya US$5,13 miliar atau sekitar Rp76,9 triliun (kurs Rp15.000).
Namun dalam perjalanan, angka itu naik jadi US$6,07 miliar dan terus membengkak hingga US$8 miliar atau sekitar Rp120 triliun di tahun 2021.
Pembengkakan biaya ini jauh dari janji awal China yang disebut-sebut lebih murah dari penawaran Jepang.
2. Ingkar Janji: Tak Pakai APBN Tapi Nyatanya…
Presiden Jokowi sempat menegaskan proyek ini murni kerja sama business to business (B2B) tanpa sentuhan APBN.
Namun pada 2022, pemerintah justru menyuntikkan Rp4,1 triliun dana APBN lewat skema Penyertaan Modal Negara (PMN) ke PT KAI.
Janji tak pakai uang rakyat pun terbukti hanya tinggal slogan.
3. Proyek Dikerjakan Serampangan
Masalah teknis juga tak kalah pelik.
Pembangunan pilar LRT di KM 3+800 dilakukan tanpa izin dan dinilai berpotensi membahayakan pengguna jalan.
Kementerian PUPR menegur keras karena sistem drainase yang buruk membuat Tol Jakarta–Cikampek sering tergenang dan macet.
Pekerjaan pun sempat dihentikan dua minggu pada Maret 2020 akibat pelanggaran prosedur.
4. Jadwal Operasional Molor Bertahun-tahun
Proyek Whoosh mulai dibangun tahun 2016 dan ditargetkan selesai pada 2019.
Namun pandemi Covid-19 membuat semua tertunda.
Pembangunan baru dilanjut lagi pada 2021 dan baru resmi beroperasi pada 17 Oktober 2023, empat tahun dari target awal.
5. Balik Modal Butuh 38 Tahun
Direktur Utama KCIC Dwiyana Slamet Riyadi menyebut, proyek ini baru akan balik modal setelah 38 tahun.
Artinya, keuntungan baru bisa dirasakan sekitar tahun 2061, itu pun jika semua berjalan sesuai rencana.
Sementara masa konsesi KCIC dengan China mencapai 50 tahun, yang berarti keuntungan harus tetap dibagi meski modal sudah kembali.
Pernyataan Luhut ini kembali memicu perdebatan publik soal transparansi proyek strategis nasional dan efektivitas penggunaan dana negara.
Meski Whoosh kini telah beroperasi, bayang-bayang pembengkakan biaya dan lemahnya pengawasan masih menjadi pekerjaan rumah besar pemerintah. (*)