Teks Foto: Brigadir Cory melaksanakan Safety Food di SPPG YKB Cabang Pematangsiantar, Senin 14 September 2026.
Indotodaynews.com - Pematangsiantar
Label Makanan Bergizi Gratis (MBG) memang terdengar meyakinkan. Namun, bergizi saja belum cukup jika keamanan pangan luput dari perhatian. Karena itu, Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Dokkes) Polres Pematangsiantar turun langsung memastikan makanan yang akan disantap ribuan penerima manfaat benar-benar memenuhi aspek keamanan pangan.
Melalui Brigadir Cory Sinaga SH, Dokkes Polres Pematangsiantar melaksanakan Safety Food di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Kemala Bhayangkari (YKB) Cabang Pematangsiantar, Senin pagi (14/9/2026).
Sekitar pukul 06.30 WIB, Pemeriksaan dilakukan sebelum menu MBG didistribusikan. Langkah ini menjadi penting karena makanan tersebut akan dikonsumsi ribuan penerima manfaat dari berbagai kelompok usia, mulai dari balita hingga pelajar.
Kasi Dokkes Penda Anita R. Turnip S.Kep.Ns mengatakan pemeriksaan Safety Food dilakukan menggunakan metode organoleptik, meliputi pemeriksaan rasa, bau dan warna. Petugas juga melakukan pemeriksaan terhadap kandungan boraks, nitrit, arsenit dan formalin.
“Dalam Safety food menggunakan Organoleptik seperti Rasa, Bau dan Warna, Kandungan Boraks, Nitrit, Arsenit dan Formalin,” Katanya.
Tak berhenti pada pemeriksaan bahan makanan, petugas Dokkes juga memberikan edukasi kepada petugas dapur mengenai proses pencucian bahan mentah. Sayuran dan buah diminta dipilah terlebih dahulu, kemudian direndam menggunakan mama lemon selama 5–10 menit, dibersihkan dengan air mengalir hingga bersih, lalu bahan sayuran direndam menggunakan air garam selama tiga menit sebelum diproses dan dimasak hingga matang.
Petugas juga memberikan edukasi mengenai cara mencuci ompreng secara baik dan benar. Kebersihan saat proses pengisian ompreng turut menjadi perhatian, termasuk memastikan jenis makanan disesuaikan dengan takaran yang telah ditentukan ahli gizi.
Pesannya sederhana, tetapi krusial: jangan sampai program yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan gizi justru mengabaikan aspek paling mendasar dalam makanan, yakni keamanan dan kebersihannya.
Adapun menu MBG yang dipersiapkan SPPG YKB Cabang Pematangsiantar terdiri dari nasi putih, telur gulai, tahu crispy, tumis buncis dan buah semangka.
Menu tersebut selanjutnya akan didistribusikan kepada 2.784 penerima manfaat, yang terdiri dari TK sebanyak 52 orang, SMP 1.124 orang, SMA 1.292 orang, ibu hamil 12 orang, ibu menyusui 63 orang dan balita 231 orang.
Dengan jumlah penerima yang mencapai ribuan orang, pengawasan keamanan pangan bukan sekadar formalitas. Satu kelalaian dalam proses pengolahan, kebersihan wadah maupun penanganan bahan makanan dapat berdampak luas.
Di sinilah Safety Food menjadi penting. Sebab, dalam program makanan gratis berskala besar, yang dibagikan bukan hanya makanan—tetapi juga kepercayaan publik. Dan kepercayaan itu harus dijaga sejak bahan masuk dapur hingga makanan berada di tangan penerima manfaat. (*)
Label Makanan Bergizi Gratis (MBG) memang terdengar meyakinkan. Namun, bergizi saja belum cukup jika keamanan pangan luput dari perhatian. Karena itu, Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Dokkes) Polres Pematangsiantar turun langsung memastikan makanan yang akan disantap ribuan penerima manfaat benar-benar memenuhi aspek keamanan pangan.
Melalui Brigadir Cory Sinaga SH, Dokkes Polres Pematangsiantar melaksanakan Safety Food di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Kemala Bhayangkari (YKB) Cabang Pematangsiantar, Senin pagi (14/9/2026).
Sekitar pukul 06.30 WIB, Pemeriksaan dilakukan sebelum menu MBG didistribusikan. Langkah ini menjadi penting karena makanan tersebut akan dikonsumsi ribuan penerima manfaat dari berbagai kelompok usia, mulai dari balita hingga pelajar.
Kasi Dokkes Penda Anita R. Turnip S.Kep.Ns mengatakan pemeriksaan Safety Food dilakukan menggunakan metode organoleptik, meliputi pemeriksaan rasa, bau dan warna. Petugas juga melakukan pemeriksaan terhadap kandungan boraks, nitrit, arsenit dan formalin.
“Dalam Safety food menggunakan Organoleptik seperti Rasa, Bau dan Warna, Kandungan Boraks, Nitrit, Arsenit dan Formalin,” Katanya.
Tak berhenti pada pemeriksaan bahan makanan, petugas Dokkes juga memberikan edukasi kepada petugas dapur mengenai proses pencucian bahan mentah. Sayuran dan buah diminta dipilah terlebih dahulu, kemudian direndam menggunakan mama lemon selama 5–10 menit, dibersihkan dengan air mengalir hingga bersih, lalu bahan sayuran direndam menggunakan air garam selama tiga menit sebelum diproses dan dimasak hingga matang.
Petugas juga memberikan edukasi mengenai cara mencuci ompreng secara baik dan benar. Kebersihan saat proses pengisian ompreng turut menjadi perhatian, termasuk memastikan jenis makanan disesuaikan dengan takaran yang telah ditentukan ahli gizi.
Pesannya sederhana, tetapi krusial: jangan sampai program yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan gizi justru mengabaikan aspek paling mendasar dalam makanan, yakni keamanan dan kebersihannya.
Adapun menu MBG yang dipersiapkan SPPG YKB Cabang Pematangsiantar terdiri dari nasi putih, telur gulai, tahu crispy, tumis buncis dan buah semangka.
Menu tersebut selanjutnya akan didistribusikan kepada 2.784 penerima manfaat, yang terdiri dari TK sebanyak 52 orang, SMP 1.124 orang, SMA 1.292 orang, ibu hamil 12 orang, ibu menyusui 63 orang dan balita 231 orang.
Dengan jumlah penerima yang mencapai ribuan orang, pengawasan keamanan pangan bukan sekadar formalitas. Satu kelalaian dalam proses pengolahan, kebersihan wadah maupun penanganan bahan makanan dapat berdampak luas.
Di sinilah Safety Food menjadi penting. Sebab, dalam program makanan gratis berskala besar, yang dibagikan bukan hanya makanan—tetapi juga kepercayaan publik. Dan kepercayaan itu harus dijaga sejak bahan masuk dapur hingga makanan berada di tangan penerima manfaat. (*)