Teks Foto; Runggu Simanungkalit (65), seorang sopir truk.
Indotodaynews.id - Tapanuli
Timbunan longsor di Desa Parsingkaman, Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Taput membuat sejumlah sopir truk dan travel harus membuat posko darurat.
Sejumlah truk barang dan sembako terlihat berbaris. Sebagian mobil tersebut terjerembab dan rodanya dipenuhi lumpur akibat material longsor.
Persaudaraan terbentuk secara alami, tak saling kenal namun saling memperhatikan. Orang muda sangat santun pada kaum tua yang tengah bersama mereka sebagai orang yang terjebak bencana.
Kondisi mereka masih sehat dan masih bisa berbagi cerita walau dalam musibah. Tak ada lagi sekat diantara mereka. Sama-sama merasakan betapa sakitnya tak bertemu keluarga dan berjuang bertahan hidup selama belasan hari sejak 25 November 2025.
Belasan hari bertarung dengan kondisi mencekam. Air dan makanan hanya bisa digunakan dari sekeliling mereka. Mereka juga berupaya mencari jalan menuju desa terdekat, yakni Desa Sibalanga yang memakan waktu 3 jam perjalanan tiba di lokasi.
"Kami di sini, ada 11 hari. Kami bakar kentang supaya bisa bertahan hidup. Kalau kades bilang bahwa bantuan sudah datang, kami pergi ke posko," tutur Runggu Simanungkalit (65), seorang sopir truk, seperti dikutip dari Tribun Medan, Sabtu (6/12/2025).
Awal kejadian, mereka hanya bisa mengonsumsi sayur kentang bakar. Alat masak pada saat itu belum ada. Mereka membuat api unggun dan memanggang beberapa kentang yang saat itu ada pada truk mereka.
"Selain sopir travel, kita yang di sini ada juga sebagai sopir pembawa logistik. Logistik sayur mayurlah. Ada dua mobil logistik yang tertahan di sini," sambungnya.
Hingga saat ini, mereka masih terjebak di lokasi tersebut. Pembersihan material masih berlangsung di Desa Parsingkaman, Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Tapanuli Utara. Secara berangsur material longsoran menuju lokasi mereka sedang dikerjakan. Ada beberapa titik longsor yang mesti dibersihkan agar bisa sampai ke lokasi mereka.
Kabar mereka di lokasi sampai kepada keluarga masing-masing setelah adanya akses internet yang disediakan TNI di Desa Sibalanga. Mereka harus menempuhnya berjalan kaki selama 3 jam. Selain jalan utama, mereka juga harus melalui hutan agar tiba di Desa Siabalanga.
"Untuk mengakses starlink tersebut, kami harus membayara Rp 10 ribu. Untuk menempuh lokasi itu, kami harus berjalan kaki dari sini dengan meraba-raba jalan selama 3 jam," sambungnya.
"Sampai sekarang, kita belum bisa ketemu langsung dengan keluarga. Kemarin, ada informasi bahwa akses internet sudah bisa di desa terdekat, kita pergi ke sanalah agar bisa menghubungi keluarga," terangnya.
Hingga saat ini, mereka tidak bisa meninggalkan mobil karena takut adanya penjarahan. Sebelumnya, truk dan mobil yang saat ini tersesat sudah dijarah.
"Keluarga minta supaya mobil ini ditinggalkan, tapi cemanalah meninggalkan ini. Situasinya sekarang lagi parah, semuanya dijarah, berhilangan semua yang ada dii sini," sambungnya.
"Solar, lampu-lampu mobil hilang semua. Kalau diliat yang bagian depan, itu udah ada yang pecah," sambungnya.
Ia berkisah soal kesehariannya sebagai sopir truk pengangkut pisang dari Sibolga menuju Sidikalang. Ia bersama rekannya sama-sama sedang menuju Sibolga. Sebagian dari mereka adalah sopir travel.
"Rencananya, kita mau ke Sibolga menjemput pisang. Kita berangkat dari Sidikalang dalam keadaan kosong," lanjutnya.
"Keluarga yang ada di Sidikalang sudah menduga saya juga menjadi korban longsor ini. Sudah dianggap hilang karena seminggu tak ada kabar dari kita. Kami tahu ada akses internet setelah orang yang kebetulan lewat dari sekitar ini menyampaikannya kepada kami bahwa di Desa Sibalanga sudah ada sinyal," sambungnya.
Ia yang saat ini tinggal bersama anak dan cucu di Sidikalang berharap segera keluarga dari kawasan terisolir tersebut. Sejumlah titik longsor dari arah Desa Parsingkaman masih ditemukan.
"Anakku ada lima orang. Istri sudah meninggal dunia. Saya tinggal bersama anak dan cucu di rumah. Saya itu mau mengambil pisang ke Sibolga dan terjebak di sini. Enggak bisa lewat," terangnya.
Di balik bencana yang tengah dialami, mereka bisa saling berbagi cerita dan pengalaman serta saling menguatkan satu sama lain. Bekerjasama dan bergotong-royong agar bisa bertahan hidup. Dengan keterbatasan peralatan dapur, mereka menggunakan periku memasak mie instan.
"Walau dalam bencana, kita masih bisa bersyukur karena kita bersama menghadapinya. Kita makan bersama, makan apa yang ada. Kami menjadi kompak di sini," terangnya.
Mereka berjumlah 30 orang. Masing-masing memiliki cerita yang sama. Berbeda usia dan pengalaman tidak menjadi penghalang bagi mereka bekerjasama dan saling menguatkan.
"Kami ada 30 orang. Untuk air, kami tampung air dari aliran ada di sini dan bisa digunakan. Periuk kami minta dari kades terdekat," lanjutnya.
Hingga saat ini, mereka pasrah dengan keadaan. Walaupun demikian, mereka berharap bencana tersebut segera dapat ditangani. (*)
Timbunan longsor di Desa Parsingkaman, Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Taput membuat sejumlah sopir truk dan travel harus membuat posko darurat.
Sejumlah truk barang dan sembako terlihat berbaris. Sebagian mobil tersebut terjerembab dan rodanya dipenuhi lumpur akibat material longsor.
Persaudaraan terbentuk secara alami, tak saling kenal namun saling memperhatikan. Orang muda sangat santun pada kaum tua yang tengah bersama mereka sebagai orang yang terjebak bencana.
Kondisi mereka masih sehat dan masih bisa berbagi cerita walau dalam musibah. Tak ada lagi sekat diantara mereka. Sama-sama merasakan betapa sakitnya tak bertemu keluarga dan berjuang bertahan hidup selama belasan hari sejak 25 November 2025.
Belasan hari bertarung dengan kondisi mencekam. Air dan makanan hanya bisa digunakan dari sekeliling mereka. Mereka juga berupaya mencari jalan menuju desa terdekat, yakni Desa Sibalanga yang memakan waktu 3 jam perjalanan tiba di lokasi.
"Kami di sini, ada 11 hari. Kami bakar kentang supaya bisa bertahan hidup. Kalau kades bilang bahwa bantuan sudah datang, kami pergi ke posko," tutur Runggu Simanungkalit (65), seorang sopir truk, seperti dikutip dari Tribun Medan, Sabtu (6/12/2025).
Awal kejadian, mereka hanya bisa mengonsumsi sayur kentang bakar. Alat masak pada saat itu belum ada. Mereka membuat api unggun dan memanggang beberapa kentang yang saat itu ada pada truk mereka.
"Selain sopir travel, kita yang di sini ada juga sebagai sopir pembawa logistik. Logistik sayur mayurlah. Ada dua mobil logistik yang tertahan di sini," sambungnya.
Hingga saat ini, mereka masih terjebak di lokasi tersebut. Pembersihan material masih berlangsung di Desa Parsingkaman, Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Tapanuli Utara. Secara berangsur material longsoran menuju lokasi mereka sedang dikerjakan. Ada beberapa titik longsor yang mesti dibersihkan agar bisa sampai ke lokasi mereka.
Kabar mereka di lokasi sampai kepada keluarga masing-masing setelah adanya akses internet yang disediakan TNI di Desa Sibalanga. Mereka harus menempuhnya berjalan kaki selama 3 jam. Selain jalan utama, mereka juga harus melalui hutan agar tiba di Desa Siabalanga.
"Untuk mengakses starlink tersebut, kami harus membayara Rp 10 ribu. Untuk menempuh lokasi itu, kami harus berjalan kaki dari sini dengan meraba-raba jalan selama 3 jam," sambungnya.
"Sampai sekarang, kita belum bisa ketemu langsung dengan keluarga. Kemarin, ada informasi bahwa akses internet sudah bisa di desa terdekat, kita pergi ke sanalah agar bisa menghubungi keluarga," terangnya.
Hingga saat ini, mereka tidak bisa meninggalkan mobil karena takut adanya penjarahan. Sebelumnya, truk dan mobil yang saat ini tersesat sudah dijarah.
"Keluarga minta supaya mobil ini ditinggalkan, tapi cemanalah meninggalkan ini. Situasinya sekarang lagi parah, semuanya dijarah, berhilangan semua yang ada dii sini," sambungnya.
"Solar, lampu-lampu mobil hilang semua. Kalau diliat yang bagian depan, itu udah ada yang pecah," sambungnya.
Ia berkisah soal kesehariannya sebagai sopir truk pengangkut pisang dari Sibolga menuju Sidikalang. Ia bersama rekannya sama-sama sedang menuju Sibolga. Sebagian dari mereka adalah sopir travel.
"Rencananya, kita mau ke Sibolga menjemput pisang. Kita berangkat dari Sidikalang dalam keadaan kosong," lanjutnya.
"Keluarga yang ada di Sidikalang sudah menduga saya juga menjadi korban longsor ini. Sudah dianggap hilang karena seminggu tak ada kabar dari kita. Kami tahu ada akses internet setelah orang yang kebetulan lewat dari sekitar ini menyampaikannya kepada kami bahwa di Desa Sibalanga sudah ada sinyal," sambungnya.
Ia yang saat ini tinggal bersama anak dan cucu di Sidikalang berharap segera keluarga dari kawasan terisolir tersebut. Sejumlah titik longsor dari arah Desa Parsingkaman masih ditemukan.
"Anakku ada lima orang. Istri sudah meninggal dunia. Saya tinggal bersama anak dan cucu di rumah. Saya itu mau mengambil pisang ke Sibolga dan terjebak di sini. Enggak bisa lewat," terangnya.
Di balik bencana yang tengah dialami, mereka bisa saling berbagi cerita dan pengalaman serta saling menguatkan satu sama lain. Bekerjasama dan bergotong-royong agar bisa bertahan hidup. Dengan keterbatasan peralatan dapur, mereka menggunakan periku memasak mie instan.
"Walau dalam bencana, kita masih bisa bersyukur karena kita bersama menghadapinya. Kita makan bersama, makan apa yang ada. Kami menjadi kompak di sini," terangnya.
Mereka berjumlah 30 orang. Masing-masing memiliki cerita yang sama. Berbeda usia dan pengalaman tidak menjadi penghalang bagi mereka bekerjasama dan saling menguatkan.
"Kami ada 30 orang. Untuk air, kami tampung air dari aliran ada di sini dan bisa digunakan. Periuk kami minta dari kades terdekat," lanjutnya.
Hingga saat ini, mereka pasrah dengan keadaan. Walaupun demikian, mereka berharap bencana tersebut segera dapat ditangani. (*)